• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Kamis, 5 November 2026
Gentaandalas.com
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Gentaandalas.com
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Gentainment Karya Calon Anggota

Tradisi Marosok, Ketika Menawar Dijaga Kerahasiaannya

oleh Redaksi
28 April 2022, 21:44 WIB
ShareShareShareShare
(Foto: ilustrasi Genta Andalas)

Oleh: M. Naufal Al Farisi*

Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya dan tradisi yang beragam. Sumatra Barat menjadi salah satu diantara banyaknya daerah di Indonesia yang masih memiliki budaya yang kental. Salah satu warisan budaya tak benda yang dimiliki Sumatra Barat adalah tradisi Marosok. Tradisi Marosok merupakan tradisi unik yang bisa ditemukan di Kabupaten Tanah Datar, Kota Payakumbuh, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Solok, Kabupaten Agam, dan Kabupaten Lima Puluh Kota.

Tradisi Marosok kerap dilakukan masyarakat ketika membeli hewan ternak, dan biasanya ramai dilakukan menjelang perayaan Idul Adha. Adapun kata “Marosok” sendiri jika diartikan dalam bahasa Indonesia ialah meraba, menyentuh, memegang tanpa memberikan sepatah kata, hanya berbalas dengan otak dan perasaan. Sesuai dengan namanya, tradisi ini dilakukan jika si pembeli keberatan dengan jumlah harga yang dipatok si penjual.

Baca Juga  Negara Lalai, Rakyat Resah: Cermin Buram Perlindungan Data di Indonesia

Transaksi tersebut dijaga kerahasiaannya karena pembeli dan penjual menggunakan bahasa isyarat di tangan mereka yang ditutup oleh kain sembari bersalaman. Pembeli hanya memberikan kode di tangannya dan penjual akan menggeleng dan mengangguk sebagai kode bahwa ia setuju atau tidak.

Salah satu penjaga peternakan sapi, Edo, mengatakan tradisi Marosok merupakan saat dimana harga ternak menjadi seimbang. “Marosok ini menentukan harga sapi. Jadi berapa anggarannya disitulah akan dijawab dalam tradisi Marosok,” jelas Edo saat diwawancarai Genta Andalas.

Edo juga menjelaskan alasan mengapa tradisi Marosok harus dilakukan. Menurutnya harga hewan ternak tidaklah sama. Agar bisa dijaga kerahasiaan penetapan harga antara penjual dan pembeli, maka tradisi Marosok bisa menjadi solusi. “Marosok ini dilakukan agar kawan sebelah kita tidak mengetahui harga ternak. Jadi tangan yang ada di dalam sarung akan mengode harga dan tangan yang satu lagi akan membalas harga tersebut,” jelas Edo.

Baca Juga  Potret Aksi Hari Anti Penyiksaan Internasional oleh Koalisi Masyarakat Sumbar

Sampai saat ini tradisi Marosok masih dapat dijumpai. Selain dapat merahasiakan proses tawar menawar, tradisi ini juga dapat mengurangi persaingan pasar dan menciptakan perdagangan yang sehat.

*Penulis merupakan Mahasiswa
Jurusan Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik Universitas Andalas

BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

(Ilustrasi/Ibnu Muhammad Bintang)

Koa dan Tantangan Pewarisan Budaya Minangkabau

21 September 2026, 22:58 WIB
(Ilustrasi/Ibnu Muhammad Bintang)

Ketika Bahasa Minang Mulai Canggung di Lidah Gen Z

19 September 2026, 23:58 WIB
(Ilustrasi/Berkah Ibadarurrahman Siregar)

Menagih Paru-Paru Anak di Tengah Dapur yang Harus Tetap Ngebul

15 September 2026, 21:28 WIB
(Ilustrasi/Berkah Ibadarurrahman Siregar)

Berani Cerdas: Saat Sulteng Memilih Pendidikan daripada Popularitas

15 September 2026, 21:02 WIB
(Ilustrasi/Jihan Aurelia Syabandini)

Volume Kendaraan Meningkat, Kemacetan Terjadi di Sejumlah Ruas Jalan UNAND

14 September 2026, 15:56 WIB
(Ilustrasi/Jihan Aurelia Syabandini)

Parkir Padat dan Tak Teratur Jadi Persoalan di Lingkungan UNAND

13 September 2026, 01:06 WIB

TERPOPULER

  • (Poster Film Alas Roban/detik.com)

    Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Menelusuri Luka Masa Lalu Lewat Cerita Lila

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Menerka Masa Depan Indonesia Melalui Teori Siklus Polybius

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Kebakaran Hanguskan Sejumlah Ruko Dekat Kampus UNAND, Kerugian Ditaksir Rp3 Miliar

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Ekspedisi Sejarah UNAND Gali Ingatan Kolektif dan Identitas Nagari Balai Tangah

    Bagikan
    Bagikan Tweet
Gentaandalas.com

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak