Padang, gentaandalas.com – Panjangnya antrean kendaraan di SPBU Pertamina yang berada di lingkungan Universitas Andalas (UNAND) kembali menjadi sorotan. Kondisi yang telah berlangsung cukup lama tersebut dikeluhkan oleh banyak konsumen, terutama mah asiswa, karena dinilai menghambat aktivitas dan menghabiskan waktu hanya untuk mendapatkan bahan bakar. Antrean kendaraan yang mengular hampir setiap hari bahkan kerap memenuhi sebagian ruas jalan utama di kawasan kampus. Pengguna kerap harus menunggu dalam waktu yang cukup lama untuk mendapatkan bahan bakar, terutama pada jam-jam sibuk.
Salah seorang mahasiswa Fakultas Hukum UNAND, Adi Wirayuda, menilai panjangnya antrean tidak terlepas dari minimnya alternatif SPBU di sekitar kawasan kampus. Menurutnya, lokasi SPBU UNAND yang strategis menjadikannya pilihan utama bagi mahasiswa, dosen, maupun masyarakat sekitar. “Bagi mahasiswa, dosen, dan masyarakat sekitar tidak punya pilihan lain karena SPBU lain jaraknya cukup jauh dan SPBU UNAND merupakan pilihan yang paling tepat meskipun harus mengantri cukup panjang, dan seringkali memenuhi pinggiran jalan utama di UNAND,” ujarnya saat diwawancarai Genta Andalas, Jumat (5/6/2026).
Ia berharap pihak Pertamina maupun UNAND dapat mengambil langkah konkret untuk mengurangi antrean yang terjadi setiap hari. “Saya berharap adanya peningkatan pelayanan, mungkin dengan ditambahkan karyawannya dari pihak Pertamina atau dari pihak UNAND supaya kami konsumen tidak antre panjang setiap hari seperti ini,” lanjutnya.
Keluhan serupa juga disampaikan oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi UNAND, Puja Marliati. Ia mengatakan kepadatan antrean umumnya terjadi pada pagi hari sebelum perkuliahan dimulai dan sore hari setelah aktivitas akademik berakhir. “Biasanya paling padat pada saat pagi hari sebelum mulai kuliah, lalu pada sore hari sesaat selesainya jam perkuliahan. Pada jam-jam ini seringkali aku dan teman-teman namai jam rawan, karena pasti ramai orang yang mengisi bensin,” ujarnya saat diwawancarai Genta Andalas pada Jumat (5/6/2026).
Menurut Puja, kondisi tersebut sudah menjadi persoalan yang dirasakan banyak mahasiswa. Karena itu, ia berharap UNAND turut berperan dalam mencari solusi atas permasalahan tersebut. Menanggapi keluhan tersebut, Direktur Umum dan Pengelolaan Aset UNAND, Azral, mengatakan pihak kampus telah menyampaikan berbagai masukan dan keluhan kepada pihak Pertamina. “Kita sudah sampaikan kepada pihak Pertamina terkait keluhan dari berbagai pihak, terkhusus mahasiswa. Pihak Pertamina belum bisa menyelesaikan permasalahan ini dalam waktu dekat karena perlunya uji kelayakan terlebih dahulu,” ujarnya saat diwawancarai Genta Andalas pada Jumat (5/6/2026).
Azral menjelaskan bahwa persoalan pelayanan tidak dapat dinilai hanya dari panjangnya antrean yang terlihat di lapangan. Menurutnya, terdapat berbagai aspek lain yang perlu dikaji, seperti sistem kerja, efektivitas pelayanan, serta kesiapan fasilitas yang tersedia. Sebagai salah satu alternatif solusi, Azral menyarankan agar Pertamina mempertimbangkan penerapan sistem self-service dengan tetap mengacu pada standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku. “Kalau saran dari saya sendiri, agar mengurangi penambahan biaya untuk karyawan baru, maka coba diadakannya self-service dengan SOP yang telah ditentukan. Agar bisa lebih efisien kinerjanya dan konsumen bisa mandiri mengerjakannya,” katanya.
Selain itu, ia juga mendorong Pertamina untuk melakukan kajian yang lebih mendalam melalui pengumpulan data langsung dari pelanggan sebelum mengambil keputusan kebijakan. “Saya sudah sampaikan ke mereka. Saya juga menyarankan untuk membuat kuesioner atau angket terkait kebutuhan pelanggan itu seperti apa. Jadi nanti kita bisa pastikan dulu bersama mereka, bukan hanya melihat dari tampilan luar saja atau antrean yang panjang saja, tapi juga mempertimbangkan aspek lainnya,” jelasnya. Menurut Azral, langkah tersebut penting agar pihak Pertamina memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi pelayanan yang sebenarnya dirasakan masyarakat.
Reporter: Farid Farhan dan Jihan Aurelia Syabandini
Editor: Auryn Dzakirah







