Padang, gentaandalas.com- Kebijakan Work From Home (WFH) bagi ASN dan tenaga kependidikan serta pembelajaran daring bagi mahasiswa di Universitas Andalas (UNAND) mulai diterapkan sebagai tindak lanjut edaran Kementerian Dikti Saintek untuk efisiensi energi di tengah dinamika geopolitik global. Direktur Pendidikan UNAND, Mahdhivan Syafwan, menyebut kebijakan ini berangkat dari anjuran penghematan BBM, termasuk dampak konflik Iran dan Israel terhadap kondisi energi. Secara umum, penerapan dilakukan fleksibel dengan mempertimbangkan karakteristik tiap fakultas yang berbeda.
Mahdhivan menjelaskan bahwa pengaturan teknis pembelajaran daring tidak diseragamkan, melainkan diserahkan kepada masing-masing fakultas. Ia menilai pendekatan ini perlu karena tidak semua bidang keilmuan dapat sepenuhnya dialihkan ke sistem daring. “Ada yang bisa banyak online, ada yang tidak memungkinkan,” ujarnya saat diwawancarai Genta Andalas pada Selasa (21/4/2026).
Sementara itu, kebijakan WFH untuk ASN dan tendik difokuskan pada hari Jumat dengan skema 50 persen tetap bekerja di kampus, sehingga operasional institusi tetap berjalan. Namun, implementasi di lapangan menunjukkan dinamika berbeda dari tujuan awal kebijakan. Mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian, Indrik, mengungkapkan bahwa sistem daring telah diterapkan sejak 20 April 2026 dengan pola satu hari daring dalam satu minggu.
Menurutnya, skema ini belum mampu menciptakan efektivitas pembelajaran yang optimal. “Perkuliahan saat daring kurang optimal karena suasana kelas menjadi pasif dan banyak yang tidak menyimak saat dosen menjelaskan karena tertidur dan tidak on cam,” katanya saat diwawancarai Genta Andalas pada Senin (27/4/2026).
Kendala teknis juga menjadi faktor yang memperlemah kualitas pembelajaran daring. Indrik menyebut gangguan jaringan seperti lag pada platform zoom kerap terjadi, baik dari sisi mahasiswa maupun dosen. Hal ini berdampak pada menurunnya kualitas interaksi selama perkuliahan. “Ada sedikit penurunan kualitas karena keterbatasan interaksi,” ujarnya. Ini menegaskan bahwa pembelajaran daring tidak sepenuhnya mampu menggantikan efektivitas tatap muka.
Lebih jauh, alasan efisiensi BBM yang menjadi dasar kebijakan dinilai tidak cukup relevan oleh mahasiswa. Indrik berpendapat bahwa penggunaan kendaraan pribadi tetap berlangsung untuk aktivitas lain di luar kampus, sehingga penghematan tidak signifikan. “Dengan adanya daring saya merasa sama saja kebutuhan BBM motor saya disebabkan aktivitas yang saya jalani di luar kampus,” ungkapnya. Ia juga menambahkan bahwa beberapa proses pembelajaran di kampus justru terdampak oleh kebijakan ini.
Secara keseluruhan, mahasiswa menilai kebijakan ini belum memberikan dampak nyata sesuai tujuan awalnya. Indrik bahkan menyarankan agar kebijakan pembelajaran daring tersebut dihentikan. “Diberhentikan saja karena tidak mempengaruhi apapun,” tegasnya. Ini menekankan perlunya peninjauan kembali terhadap pelaksanaan kebijakan di lapangan.
Reporter: Auryn Dzakirah dan Alizah Fitri Sudira
Editor: Oktavia Ramadhani







