• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Kamis, 5 November 2026
Gentaandalas.com
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Gentaandalas.com
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Aspirasi

Reorientasi Riset 70 Tahun Universitas Andalas, Menjaga Akar di Tanah Sendiri

oleh Redaksi
5 September 2026, 22:30 WIB
(Ilustrasi/Ulya Nur Fadilah)

(Ilustrasi/Ulya Nur Fadilah)

ShareShareShareShare

Oleh: Oktavia Ramadhani*
Tujuh dekade jelas bukan waktu yang sebentar. Di pertengahan dekade 1950-an, Universitas Andalas berdiri dari sebuah mimpi yang terbilang nekad, yakni membangun pusat ilmu pengetahuan pertama yang kokoh di luar Pulau Jawa. Kampus yang terletak di Limau Manis ini sejak awal tidak pernah dirancang hanya untuk memproduksi ribuan lulusan berijazah tiap tahunnya. Lebih dari itu, UNAND punya tanggung jawab moral yang teramat besar untuk menjadi motor penggerak peradaban dan kemajuan warga Sumatra Barat.

Memasuki usianya yang ke-70 di momen Lustrum XIV, Unand mengusung sebuah tema besar “Tumbuh Berakar, Menjulang Berdampak”. Bagi saya frasa ini terasa bukan sekadar hanya sebagai tulisan di spanduk acara atau hiasan baliho di gerbang masuk kampus. Kata “berakar” ditaruh di depan kata “menjulang”. Maksudnya sangat jelas, bahwa setinggi apa pun nama besar, peringkat riset, dan reputasi internasional yang ingin digapai, tidak boleh sekali-kali lupa pada tanah tempat ia berdiri.

Sebagai kampus daerah yang besar karena dukungan warga lokal, UNAND punya ikatan emosional dan utang moral yang kuat dengan masyarakat sekitar. Tuntutan zaman memang memaksa kampus untuk terus bergerak cepat dan tidak berdiam diri. Namun, pertanyaan mendasarnya tetap sama, sejauh mana riset dan inovasi yang dibuat di dalam laboratorium serta ruang kuliah UNAND benar-benar menjawab persoalan nyata warga Sumatra Barat? Riset tidak boleh berhenti hanya menjadi rutinitas akademis di balik ruangan ber-AC atau sekadar susunan angka di kertas laporan saja. Hasil penelitian sudah seharusnya menjadi jembatan hidup yang menghubungkan benteng akademis dengan kebutuhan nyata masyarakat di luar.

Pijakan Sejarah dan Kehadiran Kampus di Tengah Bencana
Kalau ingin memahami arti kata berakar secara mendalam, kita perlu melihat lagi sejarah awal UNAND. Waktu meresmikan kampus ini pada 1956, Bung Hatta membayangkan UNAND sebagai wadah lahirnya anak-anak muda yang peka terhadap keadaan sosial di sekitarnya. Tradisi berpikir kritis yang memang sudah lama hidup di tanah Sumatra Barat menjadi bahan bakar utama kehidupan akademis di kampus UNAND. Tapi cerita sejarah hanya menjadi nostalgia kosong kalau tidak dibuktikan lewat aksi nyata hari ini. Keberanian untuk berakar diuji secara terbuka saat masyarakat di sekitar kampus sedang menghadapi masalah.

Sumatra Barat punya alam yang memukau, tapi risiko bencananya juga sangat tinggi. Merujuk pada laporan riset dari Pusat Studi Bencana (PSB) UNAND, wilayah ini rawan terkena banjir bandang, erosi, sampai dampak erupsi Gunung Marapi. Di situasi seperti inilah peran dan kualitas riset kampus benar-benar berdampak. Apakah arah riset kita hari ini sudah merasa cukup hanya dengan mengolah data dari balik meja? Atau malah keburu bangga saat laporan ilmiah terbit di jurnal internasional yang justru berjarak jauh dari masyarakat awam?

Bukti nyata dari riset yang berakar itu terlihat dari para peneliti yang melangkah turun ke nagari-nagari di kaki gunung dan sepanjang aliran sungai. Mereka ikut memetakan daerah rawan, memperkirakan arah aliran lahar, dan menyusun skema mitigasi bencana bersama warga setempat di tingkat akar rumput. Riset kebencanaan seperti inilah yang memberi rasa aman dan nyata bagi masyarakat, sekaligus membuktikan kalau ilmu yang didapatkan dari kampus memang di berikan agar berdampak langsung kepada orang banyak.

Cerita yang sama juga terlihat di sektor pertanian dan pemenuhan kebutuhan pangan daerah. Data publikasi dari Fakultas Pertanian UNAND mencatat keberhasilan mereka mengembangkan bibit padi unggul lokal, seperti Padi Anak Daro dan varietas Padi Unand. Bibit ini terbukti membuat hasil panen meningkat dan lebih tahan dari serangan hama. Seperti yang tercatat dalam riwayat pengabdian kampus di situs resminya, kerja sama antara dosen, mahasiswa, dan petani inilah yang membuktikan kalau ilmu tidak hanyab berputar jadi teori abstrak di dalam kelas saja tetapi memiliki keterikatan langsung dengan nasyarakat membuat riset kampus terasa dan dapat dirasakan langsung manfaatnya.

Baca Juga  Dies Natalis Ke-29, Fisip Unand Targetkan Masuk 500 Prodi Besar Dunia

Melompat Keluar dari Tembok Kampus
Pohon yang akarnya kuat pasti punya batang dan dahan yang kokoh untuk tumbuh menjulang tinggi. Di dunia perguruan tinggi, dahan yang tinggi itu menggambarkan jangkauan ilmu dan reputasi kampus yang diakui di mana-mana. Data dari Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) mencatat UNAND sudah meluluskan lebih dari 150.000 alumni yang sekarang bekerja di berbagai bidang, mulai dari instansi pemerintah, lembaga penelitian, sampai perusahaan swasta. Ditambah status akreditasi Unggul yang dipegang kampus saat ini, kualitas belajar-mengajarnya jelas punya daya saing yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Namun, pertanyaan jujur yang perlu kita renungkan bersama adalah, apakah nama besar itu sudah sebanding dengan manfaat riset yang dirasakan oleh warga kelas bawah? Kehebatan sebuah kampus tidak bisa cuma dihitung dari banyaknya piala yang dipajang di gedung rektorat atau deretan alumni yang sukses memegang jabatan publik. Ukuran keberhasilan yang sebenarnya adalah seberapa banyak inovasi dari yang berhasil membantu mengurangi kemiskinan, mengatasi krisis pangan, dan memajukan ekonomi masyarakat luas.

Ilmu pengetahuan yang berdampak adalah ilmu yang berani keluar melompati tembok-tembok tinggi benteng akademis. Jika laboratorium farmasi UNAND berhasil meneliti potensi tanaman obat dari hutan Sumatra, riset itu harus dipastikan bisa diolah dan dipakai oleh masyarakat luas. Buat apa sebuah riset dipatenkan dan dipajang saat pameran kalau pada akhirnya hanya berakhir menjadi dokumen yang berdebu di lemari arsip?

Membaca Arah Kebijakan dan Tantangan Riset Kampus
Momen ulang tahun ke-70 ini seharusnya tidak berhenti pada gelaran seremonial dan nostalgia kejayaan masa lalu. Peringatan tujuh dekade ini justru menjadi waktu yang tepat untuk menguji kembali nalar kritis kita, agar kampus tak gampang berpuas diri dengan pencapaian administratif semata. Kita perlu melihat arah kebijakan riset di UNAND secara jujur dan terbuka. Tiap tahun ada ribuan judul penelitian yang dikerjakan dengan alokasi dana yang tak sedikit. Namun, pertanyaan mendasarnya tetap sam, berapa banyak dari riset tersebut yang benar-benar diterapkan dan dirasakan manfaatnya oleh warga Sumatra Barat?

Realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak riset masih terjebak dalam birokrasi akademis yang dingin. Penelitian sering kali dibuat hanya demi mengejar angka kredit kenaikan jabatan dosen, mengejar angka sitasi, atau sekadar memenuhi syarat akreditasi lembaga supaya nilai kampus kelihatan megah di atas kertas. Dalam praktiknya, mahasiswa bahkan kerap hanya dilibatkan sebagai pengumpul data atau pengerja administrasi laporan, tanpa pernah benar-benar diajak memahami bagaimana ilmu itu diabdikan ke masyarakat. Riset akhirnya dianggap selesai begitu laporan diserahkan dan artikel terbit di jurnal berbayar.

Kondisi ini makin parah karena kampus disibukkan oleh ambisi mengejar peringkat internasional. Karena terlalu fokus pada target angka di tingkat global, persoalan dasar warga di sekitar kampus malah sering terlewat begitu saja. Ada jarak yang lebar antara riset di kampus dengan masalah nyata yang dihadapi petani, nelayan, dan warga nagari. Kalau masalah ini dibiarkan tanpa ada keberanian untuk berbenah, riset kampus akan kehilangan relevansi sosialnya dan berubah jadi rutinitas birokrasi yang hampa.

Membawa Hasil Penelitian Keluar ke Masyarakat
Masalah utama riset kampus kita sebenarnya bukan karena kurang orang pintar atau kekurangan ide-ide brilian. Masalah dasarnya ada pada ketiadaan jembatan yang menghubungkan hasil penelitian di laboratorium dengan rantai kebutuhan warga di nagari. Riset sering kali berhenti hanyasampai tahap purwarupa atau artikel ilmiah tanpa pernah diproduksi massal dan diterapkan dalam skala luas.

Baca Juga  Sound System Diganti pada Batch 2 Bakti UNAND, Panitia Mengaku Tak Tahu Alasan

Agar riset tidak berhenti di tengah jalan, UNAND perlu menjadikan nagari-nagari di Sumatra Barat sebagai laboratorium hidup yang sesungguhnya. Nagari tak boleh lagi sekadar disinggahi secara singkat saat program KKN, melainkan diajak duduk bersama sebagai mitra sejak awal gagasan penelitian dirancang. Sebelum memulai riset, para akademisi idealnya berdiskusi dengan wali nagari, kelompok tani, hingga pemuda setempat untuk memetakan persoalan paling mendesak. Apakah warga butuh alat pengering hasil panen, pemetaan daerah rawan bencana, atau pendampingan tata kelola usaha desa?

Lewat pendekatan dari bawah ke atas seperti ini, setiap dana riset yang dikeluarkan kampus bakal punya hasil dan sasaran penerima manfaat yang jelas. Hasil penelitian tidak akan lagi berakhir menumpuk di lemari arsip karena dari awal memang dirancang untuk menyelesaikan masalah nyata di lapangan.

Mengawal Arah Kebijakan dan Langkah Nyata Kampus
Pers Mahasiswa punya ruang dan tanggung jawab moral untuk ikut mengawal arah kebijakan riset dan pendidikan. Mahasiswa memiliki tugas moral untuk mempertanyakan kembali keberpihakan ilmu pengetahuan yang diproduksi oleh para akademisi. Lewat tulisan dan liputan independen, pers mahasiswa bisa menyuarakan kondisi nagari yang belum sempat terdengar di ruang sidang rektorat.

Memasuki usianya yang ke-70, UNAND perlu mengambil langkah berani dengan merombak skema alokasi dana riset internal. Porsi anggaran terbesar harus dialokasikan khusus bagi riset terapan yang sejak awal diwajibkan memiliki produk nyata, teknologi tepat guna, atau rekomendasi kebijakan yang langsung diserahterimakan kepada masyarakat dan pemerintah daerah. Selain itu, kegiatan Kuliah Kerja Nyata tidak boleh lagi sekadar jadi rutinitas tahunan untuk memenuhi bobot SKS. UNAND harus mengintegrasikan hasil riset dosen dengan KKN, sehingga mahasiswa yang berangkat ke nagari membawa teknologi terapan dari kampus untuk diterapkan langsung bersama warga.

Kampus juga perlu membangun situs sistem informasi terbuka yang menampilkan peta sebaran dan dampak riset kampus di seluruh wilayah Sumatra Barat. Melalui transparansi ini, publik, pemerintah daerah, dan mahasiswa bisa memantau serta menilai secara langsung sejauh mana dana penelitian yang dikelola kampus telah memberikan kontribusi positif bagi kesejahteraan masyarakat. Langkah ini sangat krusial agar semua dana, waktu, dan tenaga yang dipakai untuk penelitian benar-benar kembali menjadi kemajuan untuk publik. Kebesaran sebuah perguruan tinggi tidak dilihat dari seberapa rapat benteng akademisnya menutup diri, melainkan dari seberapa luas kemanfaatannya dapat dirasakan oleh orang banyak.

Perjalanan 70 tahun Universitas Andalas adalah cerita panjang tentang menjaga janji pengabdian kepada rakyat serta terus berusaha merespons perkembangan zaman. Ukuran keberhasilan UNAND di usia ke-70 bukan hanya ditandai oleh gedung-gedung baru yang megah atau deretan trofi pemeringkatan saja. Ukuran sejati dari tema “Tumbuh Berakar, Menjulang Berdampak” terletak pada keberanian Kampus mengarahkan kembali risetnya demi menjawab jerit payah dan kebutuhan warga Sumatra Barat. Waktu riset kampus menyatu dengan akar masalah warga lokal, dampak ilmu pengetahuan itu dengan sendirinya bakal menjulang tinggi menembus batas-batas dunia. Selamat ulang tahun ke-70, Universitas Andalas. Tetaplah merawat akar riset di tanah sendiri, demi memberi manfaat nyata bagi peradaban.

*Penulis Merupakan Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas

Tag: #Pendidikan Tinggi#Riset Unand#unandSumatera Barat
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

(Ilustrasi/Zulaizah)

Penyadapan Presiden, Menguji Supremasi Hukum dan Batas Kekuasaan Aparat Negara

5 November 2026, 22:19 WIB
(Ilusgrafis/Nasywa Luthfiiyah Edfa)

“Stop the Wedding!” dan Ketakutan untuk Menikah

3 November 2026, 18:21 WIB
(Ilustrasi/Tantri Pramudita)

Ketika Pengalaman Magang Jadi Kedok Buruh Murah

23 Oktober 2026, 20:27 WIB
(Ilustrasi/Ibnu Muhammad Bintang)

Koa dan Tantangan Pewarisan Budaya Minangkabau

21 September 2026, 22:58 WIB
(Ilustrasi/Nabil Nur Insani)

Batal Dipecat, Keadilan Dipertanyakan

21 September 2026, 21:59 WIB
(Ilustrasi/Ibnu Muhammad Bintang)

Ketika Bahasa Minang Mulai Canggung di Lidah Gen Z

19 September 2026, 23:58 WIB

TERPOPULER

  • (Poster Film Alas Roban/detik.com)

    Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Menelusuri Luka Masa Lalu Lewat Cerita Lila

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Menerka Masa Depan Indonesia Melalui Teori Siklus Polybius

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Kebakaran Hanguskan Sejumlah Ruko Dekat Kampus UNAND, Kerugian Ditaksir Rp3 Miliar

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Ekspedisi Sejarah UNAND Gali Ingatan Kolektif dan Identitas Nagari Balai Tangah

    Bagikan
    Bagikan Tweet
Gentaandalas.com

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak