Oleh: Maulina
Minangkabau adalah etnis penganut matrilineal terbesar di dunia yang berasal dari Sumatera Barat. Minangkabau memiliki adat dan budaya yang sangat beragam. Salah satu budaya yang ada di Minangkabau adalah anak remaja laki-laki tinggal di surau atau masjid. Di sana mereka diajari ilmu agama, bela diri, adat, dan berbagai hal lain yang sangat bermanfaat untuk masa depan generasi Minang ke depannya.
Biasanya yang menetap di surau ini adalah anak laki-laki karena anak bujang Minangkabau nantinya akan dipersiapkan untuk merantau. Di sinilah awal mula pendidikan dasar adat dan budaya Minang diajarkan. Semua itu menjadi tanggung jawab ninik mamak untuk mengajarkan ponakan-ponakannya. Di Minangkabau, ninik mamak ada untuk menjaga perempuan, membimbing ponakan-ponakannya, dan menjaga harta pusaka.
Surau sangat berguna bagi Minangkabau karena banyak ilmu yang diajarkan kepada anak-anak Minangkabau di sini. Hal pertama yang diajarkan adalah ilmu agama. Masyarakat Minangkabau semuanya beragama Islam, makanya ada pepatah Minang yaitu adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Maksudnya, adat Minangkabau bersendikan atau berdasarkan agama Islam, sedangkan agama Islam berdasarkan Al-Qur’an. Di surau diajarkan mulai dari dasar tauhid, tingkah laku, serta penerapannya dalam kehidupan agar lebih mudah dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itulah, dulu masyarakat Minang dikenal sebagai masyarakat yang tahu akan agama. Bahkan, salah satu keberhasilan dari budaya menginap di surau ini dapat dilihat dari banyaknya ulama besar yang berasal dari Minangkabau. Beberapa ulama Minang tersebut yaitu Buya Hamka, Imam Bonjol, Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, dan masih banyak lagi ulama besar asal Minangkabau.
Para ulama ini bahkan sangat berjasa bagi Indonesia, seperti Buya Hamka yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia melalui tulisannya. Ia berjuang melawan upaya agresi Belanda di Indonesia. Buya Hamka juga dikenal sebagai ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama dan ulama di Muhammadiyah.
Selanjutnya adalah Imam Bonjol. Ia adalah tokoh pahlawan nasional yang berjuang melawan Belanda di Sumatera Barat. Imam Bonjol juga tokoh ulama yang sangat terkenal di Minangkabau. Tak kalah hebat, tokoh Minangkabau selanjutnya, Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, merupakan ulama Islam yang sangat terkenal. Bahkan, ia adalah satu-satunya orang Indonesia yang pernah menjadi imam di Masjidilharam. Itu hanya beberapa tokoh Minangkabau, sebenarnya masih banyak lagi tokoh hebat dari Minangkabau. Hal ini tidak luput dari pendidikan yang diajarkan oleh masyarakat Minangkabau melalui surau.
Kedua, di surau juga diajarkan ilmu bela diri. Di Minang, bela diri yang diajarkan adalah silat. Silat ini berguna untuk bekal merantau sebagai bentuk pertahanan diri terhadap serangan dari luar. Selain itu, silat juga digunakan sebagai media hiburan di Minangkabau yang diiringi dengan randai. Ini juga menjadi salah satu cara untuk melestarikan adat di Minangkabau agar tidak hilang dimakan waktu.
Hal ketiga yang diajarkan di surau adalah adat istiadat. Di sini, remaja Minang diajarkan bagaimana cara bersikap sesuai adat, belajar kekerabatan termasuk siapa saja saudara sesuku kita yang ada di daerah kita. Selain itu, di sini juga dikenalkan harta pusaka dan berbagai hal mengenai adat.
Oleh sebab itu, surau sangatlah penting bagi perkembangan karakter anak Minangkabau. Di sini tidak cuma mengaji saja, tetapi diajarkan berbagai hal yang sangat berguna bagi keberlangsungan adat istiadat Minangkabau ke depannya. Dahulu, surau tidak hanya menjadi tempat beribadah, tetapi juga menjadi ruang bagi anak laki-laki untuk belajar mengaji, memahami adat, berlatih silek, dan berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.
Namun, seiring berkembangnya sekolah formal dan perubahan gaya hidup masyarakat, berbagai aktivitas pendidikan dan pembentukan karakter yang sebelumnya banyak berlangsung di surau kini lebih banyak berpindah ke sekolah, rumah, dan lingkungan sosial lainnya. Akibatnya, surau tidak lagi menempati posisi yang sama dalam kehidupan masyarakat Minangkabau seperti pada masa lalu.
Budaya ini semakin lama malah mulai hilang di daerah-daerah Sumatera Barat. Ini bisa menyebabkan lunturnya budaya bangsa. Bahkan sekarang banyak sekali terjadi penyimpangan yang terjadi di Minangkabau. Hal ini salah satunya disebabkan menurunnya perhatian masyarakat terhadap pendidikan adat dan agama, termasuk semakin berkurangnya budaya pulang ka surau. Ketika surau tidak lagi menjadi ruang utama bagi anak-anak Minangkabau untuk belajar agama, adat, dan kehidupan bermasyarakat, proses pewarisan nilai-nilai tersebut kepada generasi berikutnya juga semakin menghadapi tantangan.
Dulu setidaknya ada pelajaran Budaya Alam Minangkabau, namun sekarang sayangnya sudah dihapuskan. Padahal, ini sangat dibutuhkan supaya adat kita tidak hilang dan bisa diajarkan secara turun-temurun kepada anak cucu kita nantinya. Berbagai cara dapat dilakukan untuk melestarikan budaya kita ini, seperti mempelajari adat, tidak terpengaruh oleh budaya buruk dari luar, memperkenalkan budaya kita ke mancanegara baik melalui sektor pariwisata, makanan, atau kesenian, menjadikan budaya sebagai identitas bangsa, mengadakan berbagai acara adat supaya bisa dilihat oleh generasi kita selanjutnya, dan banyak lagi cara lain untuk melestarikan adat budaya.
Penulis Merupakan Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas







