• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Sabtu, 6 Juni 2026
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Aspirasi

Ketika Umur Dijadikan Alarm Pernikahan Bagi Perempuan

oleh Redaksi
14 Maret 2026, 13:03 WIB
(Ilustrasi/Tantri Pramudita)

(Ilustrasi/Tantri Pramudita)

ShareShareShareShare

Oleh: Sabilla Hayatul Dhi’fa*

Umur berapa sekarang? Belum nikah? Nanti keburu tua. Pertanyaan-pertanyaan itu kerap kali dialamatkan ke perempuan, yang membuat seolah-olah umur perempuan tidak hanya sekedar angka. Tetapi, sebagai alarm pengingat bahwa waktu mereka untuk menikah semakin dekat. Fenomena ini sering dikaitkan dengan istilah biological clock. Secara biologis, fakta bahwa perempuan memiliki masa reproduksi terbatas itu benar. Dikutip dari Ucla Health, masa subur puncak perempuan terjadi pada umur 20-an, mulai menurun umur 20-an atau 30-an awal, dan menurun drastis umur 35 – 37 tahun.

Namun, biological clock tidak lagi dikaitkan dengan fakta biologis, tetapi berubah menjadi tekanan sosial. Perempuan yang belum menikah di usia ideal dianggap terlambat. Perempuan yang belum memiliki anak dianggap tidak lengkap. Perempuan yang terlalu fokus karir dianggap ambisius dan egois. Dalam fenomena ini, tubuh perempuan tidak lagi milik mereka. Tetapi, berubah menjadi ruang yang diawasi oleh penilaian masyarakat dan ekspektasi keluarga.

Perempuan menjadi tidak bebas dalam menentukan kapan ia siap menikah, karena keluarga mulai bertanya, mendesak, bahkan membandingkan dengan perempuan lain. Ketika seorang perempuan dipaksa untuk menikah hanya karena dianggap “terlambat”, ia cenderung mengabaikan ketidakcocokan nilai dengan pasangannya. Hasilnya justru pernikahan tidak berlandaskan kesiapan mental, melainkan karena tekanan sosial dan desakan keluarga. Lalu muncul pertanyaan apakah lebih baik menikah sesuai dengan standar sendiri walaupun dianggap terlambat oleh masyarakat atau menikah tepat waktu menurut standar masyarakat, tetapi perlahan kehilangan diri sendiri.

Pengawasan terhadap tubuh perempuan juga terjadi secara halus melalui bahasa sehari-hari seperti “keburu tua”, “tidak laku”, atau “gak kasihan sama orang tua”. Melalui bahasa-bahasa seperti itu membentuk rasa bersalah pada diri perempuan, dan menciptakan standar tidak tertulis tentang kapan perempuan ideal untuk menikah. Tekanan ini sering kali tidak terasa sebagai paksaan langsung, melainkan sebagai bentuk kekhawatiran yang dibungkus dengan rasa kasih sayang. Orang tua mengaku khawatir, keluarga hanya berniat mengingatkan, teman mengaku hanya bercanda. Namun, ketika pertanyaan yang sama terus diulang justru ia berubah menjadi tekanan psikologis.

Baca Juga  Kedaulatan Digital dan Ancaman Pemblokiran ChatGPT

Tekanan-tekanan yang didapat oleh perempuan dapat memengaruhi cara perempuan melihat dirinya sendiri. Tidak sedikit kasus perempuan yang mulai meragukan dirinya sendiri ketika ia belum menikah di usia yang dianggap telah matang. Mereka merasa tertinggal, gagal, bahkan merasa ada yang salah dengan dirinya.

Munculnya perasaan-perasaan tersebut justru menimbulkan persoalan yang lebih serius. Ketika perempuan menikah karena takut diangap terlambat, keputusan yang diambil tidak lagi sepenuhnya muncul dari kesiapan dan keinginan pribadi, melainkan muncul dari rasa takut dan stigma sosial yang ia alami. Dalam jangka panjang, keputusan yang didasarkan tekanan dan stigma justru dapat menghasilkan hubungan rumah tangga yang tidak sehat.

Selain itu, menyederhanakan fungsi reproduksi perempuan juga mengabaikan keragaman pengalaman hidupnya. Tidak semua perempuan ingin menikah di usia muda, tidak semua perempuan ingin memiliki anak, ada yang ingin melanjutkan studinya terlebih dahulu, membangun karier yang bagus, merawat orang tua, atau ingin mengenali dirinya lebih jauh lagi sebelum ke jenjang serius. Berdasarkan laporan Indikator Kesejahteraan Rakyat 2024 oleh Badan Pusat Statistik, mayoritas perempuan di Indonesia pertama kali menikah saat umur 19-24 tahun. Pada 2024, jumlahnya sebanyak 49,58%, naik sebesar 0,57% dibanding tahun 2023. Data tersebut menunjukkan bahwa pernikahan muda di Indonesia masih banyak terjadi saat ini.

Baca Juga  Indonesia di Tengah Pusaran Konflik Timur Tengah

Di sisi lain, perkembangan zaman sebenarnya telah mengubah banyak aspek, yang mana perempuan kini memiliki akses pendidikan yang lebih luas, kesempatan karier lebih terbuka, serta ruang pengembangan diri yang lebih besar dibanding generasi sebelumnya. Namun, perubahan-perubahan ini justru tidak menghilangkan pola pikir masyarakat mengenai usia ideal menikah yang masih dipertahankan sampai saat ini.

Tekanan biological clock berdampak pada kesehatan mental. Rasa cemas yang terus menerus ditahan dapat berkembang menjadi stres berkepanjangan. Perempuan bisa merasa dirinya terus menerus dikejar batas waktu yang tidak ia tetapkan sendiri. Media sosial pun terkadang dapat memperparah situasi ini, foto pernikahan teman, unggahan kehamilan, ataupun hal lain yang memicu perbandingan sosial yang intens.

Satu hal yang perlu dipahami, ialah tidak semua perempuan memiliki kondisi biologis yang sama. Ada yang mengalami masalah reproduksi, ada yang memilih menunda karena alasan medis, dan ada pula yang memutuskan childfree. Namu, faktanya tekanan sosial kerap kali tidak memberi ruang bagi pemikiran yang beragam ini. Perempuan akan tetap dihadapkan pada standar yang telah ditetapkan sejak lama.

*Penulis merupakan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas

Tag: Aspirasi mahasiswabiological clocknikah muda
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

(Ilustrasi/Zulaizah)

Menerka Masa Depan Indonesia Melalui Teori Siklus Polybius

5 Juni 2026, 23:53 WIB
(Ilusgrafis/Farid Farhan)

PP Nomor 21 Tahun 2026 dan Harapan Baru Bagi Rupiah

2 Juni 2026, 22:13 WIB
Objektifikasi perempuan dalam tongkrongan laki-laki dinilai sekadar gurauan. (Ilustrasi/Echa Syafira)

Membongkar Budaya Objektifikasi Perempuan dalam Tongkrongan Mahasiswa

1 Juni 2026, 16:47 WIB
(Ilustrasi/Ulya Nurfadilah)

Clickbait: Jebakan Informasi di Era Digital

31 Mei 2026, 11:54 WIB
(Ilustrasi/Tantri Pramudita)

Judi Online dan Masyarakat yang Kehilangan Harapan

28 Mei 2026, 16:45 WIB
(Ilustrasi/Echa Syafira)

Pesta Babi dan Ancaman terhadap Ruang hidup Masyarakat Adat

25 Mei 2026, 22:53 WIB

Populer

  • Poster film Pesta Babi

    Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Tenaga Kebersihan FK UNAND Ditemukan Meninggal di Hutan Biologi

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Pesta Babi dan Ancaman terhadap Ruang hidup Masyarakat Adat

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Mengenal Uang Japuik, Adat Pariaman yang Masih Sering Disalahartikan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Tidak Ada Unggahan Kenaikan Isa Almasih, BEM KM UNAND Klarifikasi

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Atap Bagonjong pada Rumah Gadang sebagai Identitas Sosial Masyarakat Minangkabau

    1 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Tiga Pria Diamankan Usai Diduga Konsumsi Alkohol di UNAND

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Aksi Mahasiswa Warnai Depan Kantor Gubernur Sumbar

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Absennya UNAND dalam Aksi BEM-SI Sumbar Tuai Pertanyaan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
Genta Andalas

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak