• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Kamis, 23 Juli 2026
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Aspirasi

Mandi Lumpur: Fenomena Mengemis Daring yang Menjadi Tren di Masyarakat

oleh Redaksi
18 Januari 2023, 17:18 WIB
(Ilustrator/Aisyah Luthfi)

(Ilustrator/Aisyah Luthfi)

ShareShareShareShare

 

(Ilustrator/Aisyah Luthfi)

Oleh: Asa Alvino Wendra*

Ada berbagai macam usaha yang dilakukan agar seseorang mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Mulai dari membuka usaha, bekerja untuk orang lain, hingga yang paling mirisnya mengemis. Mengemis merupakan cara mendapatkan penghasilan dengan meminta-minta kepada orang lain melalui berbagai motif dan alasan agar mendapat belas kasihan. Pada kenyataannya saat ini mengemis tidak hanya dilakukan masyarakat secara langsung, ada cara lain yang dilakukan yakni dengan memanfaatkan media sosial.

Media sosial merupakan suatu media yang digunakan dalam komunikasi agar saling terhubung antar satu orang ke masyarakat secara luas. Selain itu banyak juga orang yang menggunakan media sosial sebagai wadah untuk berkreasi, misalnya dengan membuat berbagai konten yang dapat menarik perhatian masyarakat. Namun sangat disayangkan saat ini tidak semua konten yang dihasilkan oleh kreator memberikan dampak baik,  salah satunya tren Mandi Lumpur.  

Saat ini tren Mandi Lumpur tengah ramai diperbincangkan, karena konten ini dianggap sebagai salah satu bentuk mengemis yang dilakukan masyarakat melalui media sosial. Konten Mandi Lumpur  merupakan konten yang berisi aktivitas mandi lumpur di suatu kolam yang disiarkan secara langsung untuk menarik simpati masyarakat yang menonton. Melalui konten ini para kreator mengharapkan gift dari pengguna lain yang menonton video agar nantinya bisa ditukarkan dengan uang. Awalnya konten ini dibuat oleh salah satu pengguna media sosial TikTok, dan berhasil menyita perhatian publik. Setelah viral dan meraup banyak gift, akhirnya ramai masyarakat yang mengikuti tren ini.

Baca Juga  Depresiasi Rupiah, Guncang Ketahanan Ekonomi Indonesia

Setelah viral ternyata banyak pihak yang mengecam aktivitas yang dilakukan dalam konten ini dengan berbagai alasan pertama, terkait waktu yang dilakukan oleh para kreator dalam konten ini dilaksanakan tak menentu dan tak terkecuali pada malam hari. Dari sisi kesehatan  saja mandi atau basah-basahan saat tengah malam sangat tidak baik bagi kesehatan, apalagi kerap ditemukan yang melakukan mandi lumpur adalah lansia. Hal ini diperburuk dengan kualitas air yang sudah terkontaminasi mikroorganisme. Air kotor bisa saja mengandung bahan kimia berbahaya seperti logam berat, limbah, bahan organik serta anorganik berupa buangan dari makhluk hidup seperti feses. Banyak penyakit kulit yang bisa ditimbulkan dari air kotor ini, dilansir dari halodoc.com air kotor bisa menimbulkan penyakit kulit seperti kurap, infeksi kulit, dermatitis alergi, serta penyakit kulit akibat gigitan hewan. Tidak hanya itu, mandi lumpur juga bisa menimbulkan infeksi jika ada luka pada kulit yang terkena air kotor tersebut. Mandi lumpur yang dilakukan pada malam hari juga bisa menyebabkan kedinginan yang berujung hipotermia pada kreator yang melakukannya.

Baca Juga  Larangan Akun Ganda, Pertarungan Privasi dan Regulasi

Kedua, cara kreator untuk mengambil simpati penonton dengan mengorbankan diri sendiri merupakan bentuk eksploitasi pada manusia, terutama pelaku dalam tren tersebut yang banyak juga merupakan wanita lansia. Dari aksi ini tak jarang pula ditemukan penonton yang justru merasa terhibur dengan aksi mandi lumpur tersebut. Dilansir dari merdeka.com, fenomena berupa senang atas penderitaan orang lain disebut schandenfreude. Mereka yang merasa senang atas penderitaan orang lain cenderung tidak memanusiakan korban, tidak memiliki empati, dan merupakan cara yang salah dalam mendapatkan kebahagiaan. Menteri Sosial, Tri Rismaharini juga menyampaikan bahwa segala bentuk mengemis tidak diperbolehkan.

Ada berbagai dampak negatif yang ditimbulkan dari tren mandi lumpur ini. Orang yang melihat tren ini sebagai peluang nantinya juga akan ikut-ikutan dalam melakukan mandi lumpur ini. Tentu kita harus mencegah tren ini agar tidak berlanjut nantinya. Mulai dengan tidak menonton konten sejenis mandi lumpur dan mengingatkan orang terdekat agar tidak mengikuti tren tersebut. Selain itu, pemerintah diharapkan juga harus bertindak tegas untuk kegiatan mengemis dalam bentuk apapun

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Andalas.

Editor: Tiara Juwita

Tag: daringMedia Sosialpengemis
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

(Ilustrasi/Kesih Rianti)

Ketika Penegak Hukum Diduga Tersangka

20 Juli 2026, 22:58 WIB
(Ilustrasi/Ulya Nur Fadilah)

Skripsi Tidak Pernah Lebih Berharga dari Nyawamu Sendiri

15 Juli 2026, 21:18 WIB
(Ilustrasi/Ulya Nurfadillah)

Di Balik Antrean Virtual, Adakah Kesempatan yang Benar-benar Sama?

11 Juli 2026, 21:21 WIB
(Ilusgrafis/Ulya Nur Fadilah)

Konflik Selat Hormuz, Alarm bagi Ketahanan Energi Indonesia

30 Juni 2026, 19:59 WIB
(Ilusgrafis/Ulya Nur Fadilah)

Rekonstruksi GOR Haji Agus Salim dan Nasib PKL yang Terlupakan

29 Juni 2026, 23:28 WIB
(Ilustrasi/Aulya Rindu Ramadan)

Kondisi Aceh Masih Memprihatinkan, Fasilitas Belum Pulih dan Anak Belajar di Tenda

24 Juni 2026, 23:09 WIB

Populer

  • (Poster Film Sekawan Limo 2 Gunung Klawih/Jambian-Pikiran Rakyat)

    Sekawan Limo 2: Gunung Klawih, Ketika Jalan Pintas Menjadi Kutukan Generasi Berikutnya

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Tabek Mandi Sikabu: Surga Pemandian Keluarga di Tengah Alam Sumatera Barat

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Menelusuri Luka Masa Lalu Lewat Cerita Lila

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Kondisi Aceh Masih Memprihatinkan, Fasilitas Belum Pulih dan Anak Belajar di Tenda

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Mahasiswa Sastra Inggris UNAND Gelar English Drama Performance 2026

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Saat Teror Tak Lagi Sekadar Konten

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Mengenal Uang Japuik, Adat Pariaman yang Masih Sering Disalahartikan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Toy Story 5, Ketika Teknologi Menantang Imajinasi Anak

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Rekonstruksi GOR Haji Agus Salim dan Nasib PKL yang Terlupakan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
Genta Andalas

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak