• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Kamis, 23 Juli 2026
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Aspirasi

Mengapa Korban KDRT Mudah Kembali dan Memaafkan Pelaku?

oleh Redaksi
19 Oktober 2022, 13:34 WIB
(Ilustrator/Nabila Annisa)

(Ilustrator/Nabila Annisa)

ShareShareShareShare
(Ilustrator/Nabila Annisa)

Oleh: Muhammad Rivaldo*

Belakangan ini kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) kembali hangat dibicarakan masyarakat. Hal ini semakin menjadi momok pembicaraan, setelah pasangan publik figur yang terlihat harmonis di depan khalayak ternyata memiliki kondisi rumah tangga yang berbanding terbalik dengan imej yang ditunjukkan. Sang istri melayangkan gugatan kepada pihak kepolisian karena KDRT yang dilakukan suaminya. Hal ini menjadi sorotan bagi masyarakat dan mengecam suami atas tindakan yang telah diperbuat. Namun hal lain yang mengejutkan, setelah beberapa minggu gugutan di terima kepolisian, sang istri menarik gugatan dengan alasan memaafkan dan menerima kembali sang suami.

Kembalinya korban ke pelaku tindak kekerasan tentunya membuat khalayak geram dan kebingungan. Terutama sudah banyak dorongan kepada korban untuk pergi dan melaporkan pelaku kepada pihak yang berwenang. Tentu menjadi suatu pertanyaan bagi banyak orang mengapa korban KDRT tidak meninggalkan pelaku begitu saja.

Memahami hal tersebut, psikolog menjelaskan bahwa kelangsungan hidup dalam kekerasan atau pelecehan dalam rumah tangga lebih rumit dari apa yang terlihat. Keputusan korban untuk kembali kepada pelaku yang nampaknya berbahaya dan bodoh ini dipengaruhi oleh kondisi psikologis korban yang sudah terganggu dan sudah termanipulasi oleh pelaku.

Biasanya pelaku KDRT tidak hanya melakukan kekerasan secara fisik saja, namun melakukan kontrol koersif. Mempengaruhi sikap korban bahwa tindakan kekerasan yang dilakukan merupakan hal yang lazim. Sehingga kekerasan yang terjadi terus menerus dilakukan pelaku dapat diterima oleh korban tanpa adanya perlawanan atau meninggalkan pelaku.

Baca Juga  Berhenti Merokok Diberi Satu Juta, Apakah Program yang Efektif?

Ada tiga fase siklus yang terjadi dalam KDRT. Tiga fase ini umum terjadi kepada korban kekerasan yang selalu kembali kepada pelaku kekerasan. Fase pertama ialah fase ambang kemarahan. Pada fase ini, perseteruan kecil baru terjadi, selisih paham antara pasangan ini membuat kondisi rumah tangga sedikit terguncang.

Dilanjutkan kepada fase kedua, yakni fase puncak dari ketegangan yang terjadi. Pelaku melakukan kekerasan kepada korban. Pelaku akan menyerang korban secara fisik, meskipun hal ini juga dapat mempengaruhi psikologis korban. Korban akan merasa tidak memiliki harga diri atas tindakan yang ia terima.

Fase terakhir, yakni pelaku mencoba meminta maaf atau berjanji kepada korban akan berubah menjadi lebih baik lagi. Berbagai hal dilakukan oleh pelaku agar korban setuju dan kembali setelah ketegangan yang terjadi. Setelah korban setuju untuk kembali, tentunya siklus KDRT akan kembali. Fase terakhir merupakan fase yang paling berbahaya. Korban akan merasa pelaku mengakui kesalahannya dan ingin mengubah sikapnya kepada korban. Namun, hal ini akan menjadi bualan, pelaku akan tetap melakukan kekerasan. Satu-satunya cara untuk mengakhiri KDRT hanyalah dengan meninggalkan pelaku.

Baca Juga  Clickbait: Jebakan Informasi di Era Digital

Korban KDRT bukanlah orang yang lemah. Pikiran korban hanya dimanipulasi pelaku agar tetap berada disekitarnya. Sehingga korban merasa bergantung kepada pelaku. Dalam kondisi ini satu-satu penolong sehingga dapat menyadarkan korban adalah orang terdekat dari korban, yakni keluarga dan juga teman.

Hal terbaik yang dapat dilakukan orang terdekat untuk membantu korban KDRT adalah dengan mendengarkan mereka. Mungkin pelaku mencoba mengisolasi dan membuat korban merasa sendirian. Menjadi seorang pendengar yang reseptif dapat membuat korban menganalisis keadaannya dan membuat strategi untuk keluar dari kondisi tersebut.

Selain mendengarkan dan memahami keadaan yang terjadi pada korban, sebagai orang terdekat tawarkanlah bantuan kepada korban. Yakni memberikan dorongan kepada korban untuk bergaul dengan orang terdekat lainnya. Hal ini dapat membuat korban merasa ia memiliki dukungan tanpa bergantung pada pelaku. Selain itu, membawa korban untuk bercerita kepada orang yang lebih profesional pun dibutuhkan agar psikologis yang terganggu bisa kembali pulih.

*Penulis merupakan Mahasiswa Departemen Antropologi Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas

Editor: Bilqis Zehira Ramadhanti Ishak

Tag: opini
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

(Ilustrasi/Kesih Rianti)

Ketika Penegak Hukum Diduga Tersangka

20 Juli 2026, 22:58 WIB
(Ilustrasi/Ulya Nur Fadilah)

Skripsi Tidak Pernah Lebih Berharga dari Nyawamu Sendiri

15 Juli 2026, 21:18 WIB
(Ilustrasi/Ulya Nurfadillah)

Di Balik Antrean Virtual, Adakah Kesempatan yang Benar-benar Sama?

11 Juli 2026, 21:21 WIB
(Ilusgrafis/Ulya Nur Fadilah)

Konflik Selat Hormuz, Alarm bagi Ketahanan Energi Indonesia

30 Juni 2026, 19:59 WIB
(Ilusgrafis/Ulya Nur Fadilah)

Rekonstruksi GOR Haji Agus Salim dan Nasib PKL yang Terlupakan

29 Juni 2026, 23:28 WIB
(Ilustrasi/Aulya Rindu Ramadan)

Kondisi Aceh Masih Memprihatinkan, Fasilitas Belum Pulih dan Anak Belajar di Tenda

24 Juni 2026, 23:09 WIB

Populer

  • (Poster Film Sekawan Limo 2 Gunung Klawih/Jambian-Pikiran Rakyat)

    Sekawan Limo 2: Gunung Klawih, Ketika Jalan Pintas Menjadi Kutukan Generasi Berikutnya

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Tabek Mandi Sikabu: Surga Pemandian Keluarga di Tengah Alam Sumatera Barat

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Menelusuri Luka Masa Lalu Lewat Cerita Lila

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Kondisi Aceh Masih Memprihatinkan, Fasilitas Belum Pulih dan Anak Belajar di Tenda

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Mahasiswa Sastra Inggris UNAND Gelar English Drama Performance 2026

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Mengenal Uang Japuik, Adat Pariaman yang Masih Sering Disalahartikan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Saat Teror Tak Lagi Sekadar Konten

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Toy Story 5, Ketika Teknologi Menantang Imajinasi Anak

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Rekonstruksi GOR Haji Agus Salim dan Nasib PKL yang Terlupakan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
Genta Andalas

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak