• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Sabtu, 1 Agustus 2026
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Berita

Nagari Simpang Kapuak, Kabupaten Lima Puluh Kota : Tetap Lestarikan Budaya Randai

oleh Redaksi
21 Februari 2021, 23:45 WIB
ShareShareShareShare

Oleh : Afri Haikil *)

Randai merupakan budaya khas terdahulu bagi masyarakat Minangkabau sebagai sarana komunikasi sastra daerah. Keberadaan randai saat ini banyak diabaikan oleh masyarakat Minangkabau sendiri, bahkan dapat dikatakan budaya randai sudah hampir punah. Namun sampai saat ini, masyarakat di Kabupaten Lima Puluh Kota, khususnya Nagari Simpang Kapuak, masih terus melestarikan budaya randai. Di sini, randai menjadi kesenian tradisional yang dimainkan secara berkelompok yang kemudian ditunjukkan di berbagai kegiatan adat.

Grup Randai “Salendang Dunie” merupakan nama grup randai di Nagari Simpang Kapuak, yang biasanya diperankan oleh pemuda pemudi. Grup randai ini dipimpin oleh M. Zalman dengan anggota 30 orang pemain.

“Latihan randai kami lakukan secara rutin setiap malamnya dari pukul 10 hingga pukul 2 esok harinya”, ujar Zalman.

Zalman juga menjelaskan bahwa kegiatan ini mereka lakukan agar budaya randai yang lahir dan telah turun temurun dari nenek moyang mereka tidak terlupakan begitu saja.

Baca Juga  Dmoniac, Inovasi Teknologi Pendeteksi Dini Gagal Ginjal Kronis

“Kami juga sering diminta hadir untuk mengisi acara-acara, seperti “baralek” atau “alek pangulu”, tambahnya.

Berbicara tentang asal-usulnya, dikutip dari seringjalan.com, randai awalnya dimainkan oleh masyarakat Tanah Datar, tepatnya di Nagari Pariangan. Randai dimainkan saat masyarakatnya berhasil menangkap rusa yang keluar dari laut.

Mulanya, randai dikenal sebagai sarana untuk menyampaikan kaba atau berita yang berisi cerita-cerita rakyat melalui syair atau pantun yang didendangkan dalam gerakan-gerakan silat. Namun setelah mengalami perkembangan, randai mengadopsi gaya penokohan dan dialog dalam sandiwara-sandiwara. Randai ini bisa dikatakan hampir sama dengan teater, namun lebih menitikberatkan pada cerita seputar Minangkabau.

Miko, salah satu peserta randai mengungkapkan bahwa latihan randai cukup melelahkan. Tapi semua itu dapat menjadi pengikat pertemanan.
“Latihan randai memang sangat melelahkan, tapi dengan adanya latihan dan acara-acara ini, kami lebih sering berkumpul dengan teman-teman,” jelas Miko.

Baca Juga  Potret Parade Teater 7 Bertemakan “Kapa Kahilangan Awak”

Di Nagari Simpang Kapuak, randai dimainkan dengan pola lingkaran, diikuti gerakan-gerakan yang sudah ditentukan sesuai cerita yang disampaikan. Kemudian gerakan tersebut diiringi lagu dan musik yang juga menceritakan kisah yang disesuaikan.

Umumnya, randai dipimpin oleh satu orang dengan sebutan “tukang goreh” atau “panggoreh, yang memiliki tugas penting yaitu mengeluarkan teriakan khas seperti “hap, hep” untuk mengatur cepat atau lambatnya tempo gerak dalam tiap gerakan. Randai biasanya dimainkan selama 1 hingga 5 jam dalam sekali pertunjukan sesuai panjang cerita yang disampaikan.

*) Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Peternakan Fakultas Peternakan Universitas Andalas

Tag: kesenianKhasKhasanah budayaminangRandai
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

Basarnas melakukan koordinasi kepada personil dan relawan sebelum melakukan pencarian di Hutan Biologi UNAND, Selasa(28/7/2026)

Hari Kesembilan Pencarian, Warga Hilang di Hutan Biologi UNAND Belum Ditemukan

30 Juli 2026, 08:56 WIB
Potret Gedung FKM Jati yang hingga saat ini masih terbangkai pada Kamis (16/7/2026) (Genta Andalas/ Zaki Latif Bagia Rahman)

Setahun Pascakebakaran, Gedung Jati FKM UNAND Masih Terbangkalai

19 Juli 2026, 20:32 WIB
Narasumber menyampaikan pemaparan dalam diskusi publik bertajuk "Sumatera Barat Anti Penyiksaan: Hentikan Kekerasan Negara, Serta Hapus Impunitas dan Ideologi Militerisme" yang digelar di Kantor LBH Padang, Kamis (2/7/2026) (Genta Andalas/Oktavia Ramadhani)

LBH Padang Soroti Dugaan Kekerasan Negara dan Impunitas pada Peringatan Hari Anti Penyiksaan Internasional

3 Juli 2026, 16:11 WIB
Pertunjukan drama berjudul "TPS" menghadirkan adegan di area pelepasan suara, Rabu (1/7/2026) (Genta Andalas/Syifa Alifah)

Mahasiswa Sastra Indonesia UNAND Unjuk Kepiawaian Berakting

2 Juli 2026, 16:32 WIB
Pementasan drama Nurani oleh mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia angkatan 2024 dalam Festival dan Seminar Teater Indonesia di FIB UNAND, Rabu (1/7/2026) (Genta Andalas/Zulaizah)

Sastra Indonesia UNAND Gelar Festival dan Seminar Teater Indonesia

2 Juli 2026, 16:20 WIB
Para aktor mementaskan drama The Lottery pada gelaran English Drama Performance 2026 di SMKN 7 Padang, Sabtu (27/6/2026) (Genta Andalas/Aulia Rindu)

Mahasiswa Sastra Inggris UNAND Gelar English Drama Performance 2026

28 Juni 2026, 16:30 WIB

Populer

  • (Poster Film Sekawan Limo 2 Gunung Klawih/Jambian-Pikiran Rakyat)

    Sekawan Limo 2: Gunung Klawih, Ketika Jalan Pintas Menjadi Kutukan Generasi Berikutnya

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Tabek Mandi Sikabu: Surga Pemandian Keluarga di Tengah Alam Sumatera Barat

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Saat Teror Tak Lagi Sekadar Konten

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Mengenal Sumbang Duo Baleh, Kode Etik dalam Kebudayaan Minangkabau

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Toy Story 5, Ketika Teknologi Menantang Imajinasi Anak

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Obsession: Ketika Kamu “Dipelet” Cowok Insecure

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • LBH Padang Soroti Dugaan Kekerasan Negara dan Impunitas pada Peringatan Hari Anti Penyiksaan Internasional

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Mengenal Uang Japuik, Adat Pariaman yang Masih Sering Disalahartikan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Setahun Pascakebakaran, Gedung Jati FKM UNAND Masih Terbangkalai

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
Genta Andalas

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak