• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Sabtu, 6 Juni 2026
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Aspirasi

Perizinan Ekspor Pasir Laut Justru Memperparah Kerusakan Lingkungan

oleh Redaksi
2 Juli 2023, 13:51 WIB
(Ilustrasi/Khairun Nisa)

(Ilustrasi/Khairun Nisa)

ShareShareShareShare
(Ilustrasi/Khairun Nisa)

Oleh: Junivermana Yoga*

Akhir-akhir ini jagat maya dihebohkan dengan adanya putusan dari pemerintah melalui Peraturan Pemerintah No 26 Tahun 2023 pada tanggal 15 Mei 2023, yakni mengizinkan kembali ekspor pasir laut setelah dua dekade dilarang karena isu lingkungan. Dilansir dari CNNIndonesia.com, Presiden Joko Widodo (Jokowi) baru-baru ini mengizinkan sejumlah pihak untuk mengeruk pasir laut dengan dalih mengendalikan hasil sedimentasi di laut. 

Izin untuk mengeruk pasir laut ia tuangkan dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 26 Tahun 2023 tentang Pengelolaan Hasil Sedimentasi di Laut. Dalam beleid itu, Jokowi juga mengizinkan pelaku usaha untuk memanfaatkan pasir laut untuk beberapa keperluan, termasuk ekspor. Dalam pasal 10 ayat 4 UU No 26 Tahun 2023 menjelaskan perizinan pelaku usaha untuk tambang pasir laut harus mendapat izin Kementerian ESDM atau Gubernur. PP No 26 Tahun 2023 tersebut telah membuka keran bagi pelaku usaha tambang pasir laut untuk mengekspor pasir yang selama ini terhenti 20 Tahun. 

Diizinkan ekspor pasir laut turut membawa dampak bagi lingkungan laut dan masyarakat berada di lingkungan pantai serta kepulauan kecil. Masyarakat berprofesi sebagai nelayan yang berada di pesisir pantai yang paling merasakan dampak buruk adanya tambang pasir laut, sebab dampak tambang pasir laut sangat buruk bagi ekosistem laut yang membuat ikan kabur sehingga hasil tangkapan nelayan berkurang dan dampak lain pengikisan pasir di sekitar pantai yang dapat menimbulkan abrasi serta dapat menenggelamkan pulau kecil karena pasir dibawah pantai tergerus oleh hasil pengerukan pasir laut.

Hal ini buktikan beberapa wilayah atau pulau kecill di Kepulauan Riau tenggelam seperti pulau citlim yang berada di Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau yang telah hilang dari peta akibat tambang pasir laut yang tidak terkontrol. Contoh lain pada reklamasi pulau di Jakarta yang mengambil pasir di berbagai daerah seperti di Kepulauan Seribu membuat enam pulau di Kepulauan Seribu tenggelam akibat kepentingan reklamasi di Teluk Jakarta

Baca Juga  Nikmatnya Bersantai di Wisata Muaro Padang

Tambang pasir laut yang tidak terkontrol dengan aturan yang tegas, membuat pelaku usaha sering melanggar, banyak perusahaan tambang pasir laut yang memiliki izin tambang pasir laut  terbukti juga melanggar aturan yang dibuat pemerintah. Sebagus apapun setiap peraturan yang dikeluarkan pemerintah, namun fakta dilapangan tak tersorot oleh penegak hukum. Penegak Hukum hanya menyorot setelah dampak ditimbulkan telah besar seperti tenggelam pulau Citlim di Kepulauan Riau. Tambang tersebut telah dihentikan karena pulau sekitarnya tenggelam.

Sebelumnya, pemerintah pernah melarang adanya ekspor pasir laut sebagai akibat kerusakan lingkungan laut berupa tenggelamnya beberapa pulau kecil di sekitar tambang pasir laut pada tahun 2003 melalui Keputusa Presiden (Keppres) Nomor 33 Tahun 2002 tentang Pengendalian dan Pengawasan Pengusahaan Pasir Laut yang berisi beberapa ketentuan, antara lain: (1) Ekspor pasir laut ditetapkan menjadi komoditi yang diawasi tata niaga ekspornya danopin (2) Pasir laut yang ditetapkan sebagai komoditi yang diawasi tata niaga ekspornya dapat diubah menjadi komoditi yang dilarang ekspornya setelah mempertimbangkan usulan dari Tim Pengendali dan pengawas Pengusahaan Pasir Laut.

Setelah keppres itu terbit, pemerintahan Megawati pun pernah melarang ekspor pasir laut. Larangan ekspor tersebut diatur oleh Menteri Perindustrian dan Perdagangan era Megawati, Rini Soemarno melalui Permenperin Nomor 117 Tahun 2003 tentang Penghentian Sementara Ekspor Laut. Pemerintah sekarang harus berkaca dari sejarah kelam tambang pasir laut, sampai kapan dan berapa banyak pulau kecil dan pesisir pantai akan tenggelam?

Baca Juga  Makam Muhammad Yamin, Wisata Historis di Desa Talawi Kota Sawahlunto

Di balik dampak negatif juga ada dampak positif, Melansir CNNIndonesia.com, dampak positif tambang pasir laut yang merupakan hasil sedimentasi laut, menjaga keterpeliharaan daya dukung ekosistem pesisir dan laut, mengurangi dampak negatif terhadap ekosistem pesisir sehingga ekosistem pesisir memiliki kemampuan untuk menyerap karbon lebih baik dibandingkan ekosistem darat, menjaga fungsi alur, untuk reklamasi di dalam negeri, untuk pembangunan infrastruktur pemerintah, pembangunan sarana prasarana di dalam negeri oleh pelaku usaha, untuk diekspor asal kebutuhan di dalam negeri sudah terpenuhi sesuai peraturan perundang-undangan, dan untuk peningkatan nilai tambah ekonomi masyarakat.

Dampak positif itu apabila tidak bisa dimanfaatkan dengan baik dalam pengelolaannya, maka pulau-pulau kecil dan pesisir pantai akan tenggelam dan ribuan bahkan jutaan nelayan mencari ikan akan susah mencari ikan dan terpaksa mencari lebih jauh lagi dan membutuhkan biaya lebih banyak lagi bagi nelayan dan membuat harga ikan akan naik

Pemerintah harus berpikir jangan kebutuhan pengusaha tambang pasir aja dipikirin, pikirkan juga nasib nelayan dan warga yang terdampak penambangan pasir laut, dengan bukanya ekspor pasir laut maka akan menimbulkan peluang bagi pengusaha untuk mengeksploitasi pasir-pasir laut secara besar-besaran apabila aturan pelaksanaan dan perizinan tidak dipertegas dan perketat serta pelaksanaan di lapangan harus diawasi oleh pemerintah sendiri, Jangan sampai satu pulau kecil lagi hilang dan tenggelam akibat penambangan pasir laut.

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Andalas

Editor: Bilqis Zehira Ramadhanti Ishak

 

Tag: AspirasiIndonesiaMahasiswaopiniPantaiUnand
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

(Ilustrasi/Zulaizah)

Menerka Masa Depan Indonesia Melalui Teori Siklus Polybius

5 Juni 2026, 23:53 WIB
Situasi Pelaksanaan Diseminasi Riset tema Kebencanaan oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang di Gedung Serba Guna (GSG) Fakultas Hukum Universitas Andalas pada Kamis (4/6/2026) (Genta Andalas/Irfan Deri Saputra)

Diseminasi Riset LBH Padang Soroti Industri Energi dan Kerentanan Bencana

4 Juni 2026, 23:06 WIB
(Ilusgrafis/Farid Farhan)

PP Nomor 21 Tahun 2026 dan Harapan Baru Bagi Rupiah

2 Juni 2026, 22:13 WIB
Objektifikasi perempuan dalam tongkrongan laki-laki dinilai sekadar gurauan. (Ilustrasi/Echa Syafira)

Membongkar Budaya Objektifikasi Perempuan dalam Tongkrongan Mahasiswa

1 Juni 2026, 16:47 WIB
(Ilustrasi/Ulya Nurfadilah)

Clickbait: Jebakan Informasi di Era Digital

31 Mei 2026, 11:54 WIB
(Ilustrasi/Tantri Pramudita)

Judi Online dan Masyarakat yang Kehilangan Harapan

28 Mei 2026, 16:45 WIB

Populer

  • Poster film Pesta Babi

    Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Tenaga Kebersihan FK UNAND Ditemukan Meninggal di Hutan Biologi

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Pesta Babi dan Ancaman terhadap Ruang hidup Masyarakat Adat

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Mengenal Uang Japuik, Adat Pariaman yang Masih Sering Disalahartikan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Tidak Ada Unggahan Kenaikan Isa Almasih, BEM KM UNAND Klarifikasi

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Atap Bagonjong pada Rumah Gadang sebagai Identitas Sosial Masyarakat Minangkabau

    1 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Aksi Mahasiswa Warnai Depan Kantor Gubernur Sumbar

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Tiga Pria Diamankan Usai Diduga Konsumsi Alkohol di UNAND

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Absennya UNAND dalam Aksi BEM-SI Sumbar Tuai Pertanyaan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
Genta Andalas

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak