• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Sabtu, 6 Juni 2026
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Aneka Ragam Resensi

Persaingan Bertahan Hidup di Era Runtuhnya Bumi

oleh Redaksi
1 Februari 2024, 16:45 WIB
Netflix

Netflix

ShareShareShareShare
(Poster Film Badland Hunters/Netflix)

Oleh: Lara Elisa Putri

Film Badland Hunters mengisahkan tentang kehancuran dunia, disajikan dengan cerita yang menarik oleh sutradara Hyo Myung Hae berhasil memukau para penonton. Film yang berdurasi 1 jam 47 menit tersebut membawakan genre distopia yang menegangkan. Dalam sepekan terakhir film ini berhasil menduduki peringkat 10 besar di tahun 2024 dengan penayangan mencapai 14,3 juta penonton hanya dalam kurun waktu 3 hari yakni sejak tanggal awal tayang pada 26 Januari hingga 28 Januari di Netflix. Film ini dimainkan oleh aktor ternama Ma Dong Seok, Roh Jeong Eui, Lee Jun Young, dan sejumlah aktor kenamaan lainnya.

Film ini diawali oleh adegan seorang dokter bernama Yang Gi su yang diperankan oleh Lee Hee Joon, terobsesi untuk menghidupkan anak kembali setelah meninggal dunia, aksinya sering gagal dan membunuh lebih dari 100 orang. Setelah kejadian tersebut datang gempa bumi dengan guncangan yang sangat kuat, membuat seisi bumi roboh dan hanya tersisa beberapa serpihan gedung-gedung tinggi. Tidak banyak manusia yang selamat akan tetapi mereka yang selamat mencoba untuk bertahan hidup dengan segala cara.

Situasi setelah terjadinya tragedi, mengakibatkan manusia banyak kehilangan sumber daya alam dan mencoba untuk hidup dengan segala cara, seperti berburu dan memakan hewan apa saja yang melintas di daerah dekat pemukiman. Sementara itu dokter Yang Si Gu berhasil selamat dan anaknya yang tersisa setengah badan, dokter Yang Si Gu membuat resep suntikan manusia menjadi kebal, dia melancarkan aksinya dengan mencari para remaja yang masih tertinggal di kota yang telah hancur. Remaja tersebut di cari oleh sebuah organisasi yang bernama NGO, sebuah organisasi yang memiliki misi untuk memanfaatkan cairan dari manusia untuk di suntikan ke manusia lain demi bertahan hidup.

Baca Juga  Belajar Menghargai Waktu Lewat FilmTitip Bunda di Surga-Mu

Jalan cerita yang di sajikan mengandung nilai-nilai kemanusiaan yang cukup tinggi, melalu adegan film dapat dilihat bahwa manusia bisa bertahan hidup meski hanya tersisa beberapa serpihan dari bencana yang terjadi, asalkan di bumi masih tersisa hewan dan air. Melalui tokoh Nam Sa sang pemburu, bahwa bertahan hidup tidaklah buruk dalam kondisi apapun, asalkan kita manusia masih bisa bekerja sama dengan orang-orang terdekat, dan menggunakan akal untuk mendapatkan makanan dan air bersih.

Film ini memiliki sinematografi yang sangat profesional, dalam film ini adegan-adegan dan tempat yang di tayangkan sangat sesuai dengan ekspetasi para penonton, tempat yang dibuat nyata, seolah-olah bumi memang sedang hancur total, pencahayaan yang sangat mendukung di setiap scan film yang dihadirkan, dari malam siang dan pagi dapat dilihat bahwa pengaturan latar suasananya sangat sempurna.

Baca Juga  Kisah Perjalanan Buya Hamka: Cendekiawan yang Tak Mampu Ditawan

Para pemain di film ini juga memiliki tata rias yang sesuai dengan film yang ditayangkan, muka lusuh dan adegan-adegan pembegalan kepala manusia disajikan dengan sangat nyata tanpa adanya sensor, akting dari para aktor dan aktris dalam film ini dinilai juga sangat sempurna, mereka berhasil memainkan peran dengan sangat profesional. Film ini dinilai sempurna karena dari penyajian sinematografinya sangat bagus, alur yang jelas dan tidak bertele-tele juga membuat film ini sangat digemari oleh penonton, setiap adegan yang dijalankan sangat sesuai dengan ending yang akan diberikan, kemenangan pemain protagonis juga sangat memuaskan hati para penonton.

Kelemahan dari film ini hanya pada durasi nya yang terbilang singkat dengan cerita yang lumayan berat. Selain itu adegan sadis dalam film ini memiliki batasan umur yang cukup tinggi untuk di tonton yaitu 17+. Film ini tidak direkomendasikan bagi yang takut darah dan pembegalan kepala, karena adegan dalam film ini tidak memiliki sensor. Film ini akan sangat direkomendasikan kepada para pencinta film dengan adegan yang sadis. Selamat menonton.

*Penulis merupakan mahasiswa Departmen Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas

 

Tag: Film Netflix
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

Poster film Pesta Babi

Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita

25 Mei 2026, 21:22 WIB
(Poster Film Titip Bunda di Surga-Mu/detik.com)

Belajar Menghargai Waktu Lewat FilmTitip Bunda di Surga-Mu

28 Februari 2026, 21:46 WIB
(Poster Film Alas Roban/detik.com)

Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

16 Januari 2026, 19:04 WIB

Kehangatan Keluarga yang Lahir dari Cinta, Bukan Ikatan Darah

25 Agustus 2025, 15:18 WIB
Foster Film Jumbo/ anamifilm.com

Jumbo: Perjalanan Keberanian di Tengah Luka”

12 April 2025, 20:34 WIB
Poster Film About Family/detik.com

About Family: Pilihan Hidup dan Warisan Keluarga yang Menguji Hati

16 Januari 2025, 09:22 WIB

Populer

  • Poster film Pesta Babi

    Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Tenaga Kebersihan FK UNAND Ditemukan Meninggal di Hutan Biologi

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Pesta Babi dan Ancaman terhadap Ruang hidup Masyarakat Adat

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Mengenal Uang Japuik, Adat Pariaman yang Masih Sering Disalahartikan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Tidak Ada Unggahan Kenaikan Isa Almasih, BEM KM UNAND Klarifikasi

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Atap Bagonjong pada Rumah Gadang sebagai Identitas Sosial Masyarakat Minangkabau

    1 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Tiga Pria Diamankan Usai Diduga Konsumsi Alkohol di UNAND

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Aksi Mahasiswa Warnai Depan Kantor Gubernur Sumbar

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Absennya UNAND dalam Aksi BEM-SI Sumbar Tuai Pertanyaan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
Genta Andalas

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak