• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Kamis, 23 Juli 2026
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Aspirasi

Scroll, Skip, Lelah: Tantangan Mental Generasi Digital

oleh Redaksi
26 Juni 2025, 20:53 WIB
Ilustrasi/ Meuthya Ghaniya Dwi Putri

Ilustrasi/ Meuthya Ghaniya Dwi Putri

ShareShareShareShare
Ilustrasi/ Meuthya Ghaniya Dwi Putri

Oleh: Meuthya Ghaniya Dwi Putri*

Di tengah derasnya arus digital dan kecepatan zaman, generasi masa kini semakin akrab dengan rasa bosan yang datang terlalu cepat. Segala sesuatu hadir secara instan cukup dengan sekali klik, satu guliran layar, atau sentuhan jari. Namun, di balik kemudahan dan kecepatan itu muncul gejala yang mengkhawatirkan, kita jadi sulit bertahan, enggan menyelesaikan, dan cepat kehilangan minat, bahkan terhadap hal-hal yang pernah begitu kita dambakan. Ini bukan sekadar soal kurang fokus, melainkan gejala budaya baru yang perlahan mengikis ketahanan mental dan kemampuan untuk menikmati proses.

Fenomena ini bukan hanya dialami oleh segelintir orang. Banyak yang mengeluh dengan nada serupa, seperti, “Awalnya semangat banget, tapi lama-lama males.” Ini bukan semata-mata kemalasan, melainkan refleksi dari gaya hidup yang kini bergerak terlalu cepat, terlalu padat, dan terlalu lapar akan hal-hal baru. Seolah ada dorongan konstan untuk terus melompat ke aktivitas berikutnya, sebelum sempat benar-benar meresapi yang sedang dijalani. Bahkan ketika sedang melakukan sesuatu yang disukai, sering muncul godaan untuk mencoba hal lain yang tampak lebih menyenangkan, lebih ringan, atau sekadar lebih trending.

Kita hidup di era ketika segalanya bisa diganti dalam hitungan detik. Tak suka satu video? Tinggal skip. Bosan dengan seseorang? Cukup unfollow. Buku terlalu tebal? Cari ringkasannya di internet. Bahkan dalam mencari hiburan, kita cenderung mencari yang lebih cepat, lebih viral, dan lebih memacu adrenalin. Akibatnya, rentang perhatian menyempit, konsentrasi melemah, dan kemampuan bertahan dalam satu aktivitas makin berkurang. Kita lebih tergoda oleh sensasi dibanding makna, lebih tertarik pada awal yang seru dari pada proses yang membutuhkan waktu dan kesabaran.

Baca Juga  Larangan Akun Ganda, Pertarungan Privasi dan Regulasi

Fenomena ini memiliki akar kuat pada budaya digital dan algoritma media sosial. Platform-platform tersebut tak hanya menyajikan konten, tapi juga mendorong kita untuk terus bergerak dari satu hal ke hal lain. Sebuah Penelitian dalam Jurnal TANDA tahun 2023 menunjukkan bahwa gaya hidup individualistik dan kuatnya pengaruh budaya asing telah menjauhkan generasi muda dari nilai-nilai lokal. Mereka tumbuh dalam arus konten global yang serba instan, tanpa sempat membangun kedekatan emosional atau refleksi yang mendalam. Sementara data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2021 menyebutkan bahwa Generasi Z, yang berjumlah sekitar 75 juta jiwa atau 28% dari populasi Indonesia, tumbuh dalam dunia digital yang menuntut multitasking. Hal ini memang melatih mereka untuk cepat beradaptasi, tapi juga membuat mereka lebih mudah kehilangan fokus dan semangat saat dihadapkan pada proses yang menuntut ketekunan.

Dikutip dari CNBC Indonesia, laporan Mind Health Report oleh AXA UK yang turut menegaskan kondisi ini, sebanyak 75% Gen Z mengalami kesulitan mempertahankan fokus saat berbicara langsung, bahkan banyak yang mulai memainkan ponsel hanya dua menit setelah percakapan dimulai. Sebanyak 39% mengaku terdorong kuat untuk mengecek notifikasi selama berbincang.

Gejala mudah bosan ini bukan hanya mengubah cara kita menikmati hiburan, tapi juga menyusup ke berbagai aspek kehidupan, belajar, bekerja, bahkan mencintai. Hubungan yang dulu dibangun dengan sabar kini mudah kandas hanya karena “Sudah nggak seru lagi.” Pekerjaan yang menuntut proses ditinggalkan jika hasilnya tak kunjung terlihat. Hobi pun sulit berkembang karena setiap minggu selalu ada tren baru yang terasa lebih menarik. Kita tumbuh dalam dunia yang bergerak cepat, di bawah tekanan produktivitas, ekspektasi sosial, dan banjir informasi. Dalam realitas seperti ini, rasa bosan justru menjadi cara bertahan. Kita cepat pindah, bukan karena yang kita jalani tak bermakna, melainkan karena kita tidak diberi ruang untuk mendalaminya.

Baca Juga  Kebebasan Berekspresi vs Konsekuensi Hukum di Media Sosial

Lalu, bagaimana menghadapi budaya cepat bosan ini? Jawabannya tidak harus dimulai dari hal besar. Kita bisa mulai dengan menyadari dorongan untuk terus bergerak dan memberi diri sendiri waktu untuk jeda. Kesadaran ini penting agar kita bisa mengambil kembali kendali, yang tak kalah penting adalah membangun dukungan sosial. Ajak teman, keluarga, atau komunitas untuk saling menyemangati menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Dengan dukungan semacam itu, kita lebih kuat menghadapi godaan untuk berhenti di tengah jalan.

Rasa bosan barangkali sudah menjadi bagian dari kehidupan modern. Tapi memilih untuk bertahan dan menyelesaikan sesuatu hingga tuntas adalah kekuatan yang bisa kita latih. Di tengah dunia yang serba cepat dan serba instan, kemampuan untuk konsisten, fokus, dan menyelesaikan justru menjadi kualitas yang langka dan sangat berharga. Jika kita belajar untuk konsisten, memberi waktu, dan tidak mudah tergoda pada hal baru, mungkin kita bisa menemukan kembali makna dalam proses yang biasa-biasa saja. Dan justru di situlah, dalam kesabaran dan kejenuhan, kita tumbuh menjadi pribadi yang lebih matang dan utuh.

*Penulis merupakan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Andalas

 

Tag: budaya bosandigitalGenZopini
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

(Ilustrasi/Kesih Rianti)

Ketika Penegak Hukum Diduga Tersangka

20 Juli 2026, 22:58 WIB
(Ilustrasi/Ulya Nur Fadilah)

Skripsi Tidak Pernah Lebih Berharga dari Nyawamu Sendiri

15 Juli 2026, 21:18 WIB
(Ilustrasi/Ulya Nurfadillah)

Di Balik Antrean Virtual, Adakah Kesempatan yang Benar-benar Sama?

11 Juli 2026, 21:21 WIB
Poster film Toy Story 5/Disney Indonesia

Toy Story 5, Ketika Teknologi Menantang Imajinasi Anak

3 Juli 2026, 13:09 WIB
Pertunjukan drama berjudul "TPS" menghadirkan adegan di area pelepasan suara, Rabu (1/7/2026) (Genta Andalas/Syifa Alifah)

Mahasiswa Sastra Indonesia UNAND Unjuk Kepiawaian Berakting

2 Juli 2026, 16:32 WIB
Pementasan drama Nurani oleh mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia angkatan 2024 dalam Festival dan Seminar Teater Indonesia di FIB UNAND, Rabu (1/7/2026) (Genta Andalas/Zulaizah)

Sastra Indonesia UNAND Gelar Festival dan Seminar Teater Indonesia

2 Juli 2026, 16:20 WIB

Populer

  • (Poster Film Sekawan Limo 2 Gunung Klawih/Jambian-Pikiran Rakyat)

    Sekawan Limo 2: Gunung Klawih, Ketika Jalan Pintas Menjadi Kutukan Generasi Berikutnya

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Tabek Mandi Sikabu: Surga Pemandian Keluarga di Tengah Alam Sumatera Barat

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Menelusuri Luka Masa Lalu Lewat Cerita Lila

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Kondisi Aceh Masih Memprihatinkan, Fasilitas Belum Pulih dan Anak Belajar di Tenda

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Mahasiswa Sastra Inggris UNAND Gelar English Drama Performance 2026

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Saat Teror Tak Lagi Sekadar Konten

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Mengenal Uang Japuik, Adat Pariaman yang Masih Sering Disalahartikan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Toy Story 5, Ketika Teknologi Menantang Imajinasi Anak

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Rekonstruksi GOR Haji Agus Salim dan Nasib PKL yang Terlupakan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
Genta Andalas

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak