• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Sabtu, 7 November 2026
Gentaandalas.com
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Gentaandalas.com
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Aspirasi

Soeharto Resmi Jadi Pahlawan Nasional: Antara Warisan Pembangunan dan Luka Sejarah

oleh Redaksi
Selasa, 11 November 2025, 00:27 WIB
ShareShareShareShare

Oleh: Zaki Latif Bagia Rahman*

Penetapan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional pada 10 November 2025 oleh pemerintah menandai titik balik yang kontroversial dalam sejarah modern Indonesia. Keputusan ini segera membelah opini publik, antara mereka yang melihatnya sebagai pengakuan atas jasa pembangunan, dan mereka yang menilai langkah ini sebagai pengkhianatan terhadap semangat reformasi dan keadilan sejarah. Nama Soeharto tidak pernah netral. Ia adalah simbol dari era penuh kemajuan sekaligus penderitaan.

Bagi pendukungnya, Soeharto dikenang sebagai Bapak Pembangunan. Ia dianggap berhasil menstabilkan perekonomian Indonesia pasca-kekacauan politik pertengahan 1960-an, menekan inflasi yang pernah mencapai ratusan persen, dan membawa pertumbuhan ekonomi rata-rata di atas 7 persen selama dekade 1970–an hingga awal 1990–an. Berbagai proyek strategis seperti swasembada pangan, pembangunan infrastruktur dasar, program transmigrasi, serta modernisasi pertahanan menjadi bukti keberhasilannya.

Sejarawan ekonomi Sri Margana dari Universitas Gadjah Mada pernah menyebut bahwa keberhasilan Soeharto menciptakan birokrasi pembangunan dan kontrol stabilitas politik merupakan fondasi bagi industrialisasi awal Indonesia. Dalam kerangka ini, penganugerahan gelar Pahlawan Nasional dianggap sebagai penghormatan terhadap kontribusi nyata yang membentuk fondasi negara modern.

Namun di sisi lain, ada realitas sejarah yang jauh lebih kompleks dan tidak bisa dihapus dari ingatan nasional. Rezim Soeharto berdiri di atas fondasi kekuasaan yang represif. Ia memimpin selama 32 tahun dengan sistem politik yang menutup ruang oposisi, membungkam kebebasan berekspresi, dan mengawasi ketat kehidupan masyarakat. Pelanggaran HAM berat mewarnai masa pemerintahannya, mulai dari pembantaian massal pasca-1965 yang menelan ratusan ribu korban, peristiwa penembakan misterius, penculikan aktivis pro-demokrasi menjelang kejatuhannya tahun 1998, hingga berbagai operasi militer di Aceh dan Timor Timur.

Baca Juga  Desil Berubah, Jangan Abaikan Kondisi Nyata Masyarakat

Menurut pandangan sejarawan Asvi Warman Adam, setiap upaya menempatkan Soeharto sebagai pahlawan harus memperhitungkan fakta bahwa ia juga merupakan aktor politik yang memimpin rezim dengan pelanggaran HAM sistemik. Ia menegaskan, tidak ada bangsa yang bisa berdamai dengan masa lalunya tanpa terlebih dahulu mengakui kesalahan yang terjadi. Dalam konteks ini, penganugerahan gelar pahlawan sebelum ada penyelesaian kasus pelanggaran masa lalu justru melemahkan upaya rekonsiliasi nasional.

Pengamat politik dari Lembaga Ilmu pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro, menilai keputusan ini sebagai bagian dari dinamika politik memori yang tidak pernah selesai. Dalam pandangannya, pemberian gelar tersebut berpotensi menormalkan kembali figur otoriter di tengah masyarakat yang masih berjuang mempertahankan nilai-nilai demokrasi. Ia menyebut langkah ini bisa menjadi preseden berbahaya yang menandakan bahwa pencapaian ekonomi dapat menutupi catatan pelanggaran kemanusiaan.

Polemik ini pada akhirnya mengarah pada satu pertanyaan mendasar, apakah negara boleh memberikan penghargaan tertinggi kepada sosok yang warisannya masih menyisakan luka sosial dan politik yang dalam? Gelar Pahlawan Nasional bukan sekadar penghargaan administratif. Ia adalah simbol moral, penanda nilai, dan teladan yang dijadikan panutan generasi berikutnya.

Apabila penghargaan tersebut diberikan tanpa terlebih dahulu menyelesaikan tanggung jawab sejarah, negara berisiko kehilangan arah moral. Tidak sedikit aktivis HAM yang menilai langkah ini sebagai bentuk penghapusan memori korban dan keluarga korban. Dalam dua dekade terakhir, berbagai aksi seperti Aksi Kamisan telah menjadi simbol perjuangan mencari keadilan. Mereka bukan menolak pembangunan, tetapi menuntut pengakuan terhadap luka masa lalu yang selama ini diabaikan oleh negara.

Baca Juga  Pentingnya Memahami Ketidaksesuaian Sejarah

Dalam konteks keadilan transisional, langkah pemerintah seharusnya bukan sekadar menimbang jasa pembangunan, tetapi juga mengakui dimensi kemanusiaan. Penghargaan terhadap figur kontroversial seperti Soeharto seharusnya diiringi dengan keberanian membuka arsip sejarah, memulihkan hak-hak korban, serta mengedukasi publik tentang kompleksitas masa lalu. Tanpa itu, bangsa ini berisiko melahirkan generasi yang buta terhadap sejarahnya sendiri.

Penetapan Soeharto sebagai pahlawan juga memperlihatkan bahwa politik simbolik masih menjadi instrumen kuat dalam mengatur narasi sejarah. Gelar ini, selain berfungsi sebagai penghormatan, juga menjadi alat legitimasi politik bagi rezim yang ingin menghubungkan dirinya dengan warisan stabilitas masa lalu. Dengan demikian, penghargaan ini tidak hanya bersifat historis, tetapi juga politis membentuk kembali cara bangsa ini memahami masa lalunya.

Hingga negara mampu secara terbuka menuntaskan persoalan sejarah, mengakui kesalahan, dan memberikan keadilan kepada para korban, maka penetapan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional tetaplah langkah yang prematur. Gelar tersebut seharusnya mencerminkan keberanian moral, bukan sekadar keberhasilan ekonomi. Pahlawan sejati adalah mereka yang tidak hanya membangun negara, tetapi juga menjaga martabat kemanusiaan.

Selama luka masa lalu belum disembuhkan dan tanggung jawab moral belum ditunaikan, maka gelar itu akan selalu terasa berat untuk disandang. Dalam bangsa yang ingin maju dan adil, kejujuran terhadap sejarah adalah bentuk penghormatan tertinggi yang bisa diberikan, bukan sekadar penghargaan formal yang menenangkan rasa bersalah kolektif.

*Penulis merupakan Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas

Tag: kontroversialOpini Mahasiswaorde barupahlawan nasionalsejarahsoeharto
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

(Ilustrasi/Zulaizah)

Penyadapan Presiden, Menguji Supremasi Hukum dan Batas Kekuasaan Aparat Negara

Kamis, 5 November 2026, 22:19 WIB
(Ilusgrafis/Nasywa Luthfiiyah Edfa)

“Stop the Wedding!” dan Ketakutan untuk Menikah

Selasa, 3 November 2026, 18:21 WIB
(Ilustrasi/Tantri Pramudita)

Ketika Pengalaman Magang Jadi Kedok Buruh Murah

Jumat, 23 Oktober 2026, 20:27 WIB
(Ilustrasi/Ibnu Muhammad Bintang)

Koa dan Tantangan Pewarisan Budaya Minangkabau

Senin, 21 September 2026, 22:58 WIB
(Ilustrasi/Nabil Nur Insani)

Batal Dipecat, Keadilan Dipertanyakan

Senin, 21 September 2026, 21:59 WIB
(Ilustrasi/Ibnu Muhammad Bintang)

Ketika Bahasa Minang Mulai Canggung di Lidah Gen Z

Sabtu, 19 September 2026, 23:58 WIB

TERPOPULER

  • (Poster Film Alas Roban/detik.com)

    Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Menelusuri Luka Masa Lalu Lewat Cerita Lila

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Menerka Masa Depan Indonesia Melalui Teori Siklus Polybius

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Kebakaran Hanguskan Sejumlah Ruko Dekat Kampus UNAND, Kerugian Ditaksir Rp3 Miliar

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Ekspedisi Sejarah UNAND Gali Ingatan Kolektif dan Identitas Nagari Balai Tangah

    Bagikan
    Bagikan Tweet
Gentaandalas.com

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak