• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Kamis, 5 November 2026
Gentaandalas.com
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Gentaandalas.com
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Berita

AI dalam Kurikulum Sekolah: Inovasi Kemajuan atau Ketimpangan Digital?

oleh Redaksi
3 Juni 2025, 09:46 WIB
Ilustrasi / Ulya Nur Fadhilla

Ilustrasi / Ulya Nur Fadhilla

ShareShareShareShare
Ilustrasi / Ulya Nur Fadhilla

Oleh: Sabilla Hayatul

Rencana pemerintah untuk memasukkan pembelajaran kecerdasan buatan Artificial Intelligence  (AI) ke dalam kurikulum Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) mulai tahun ajaran 2025/2026 disambut sebagai langkah progresif menuju era digital. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menyampaikan bahwa kebijakan ini bertujuan meningkatkan digitalisasi pembelajaran dan menyiapkan generasi muda agar lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi.Namun, kebijakan ini tidak diterapkan secara serentak ke semua sekolah. Hanya sekolah-sekolah yang telah siap dari segi infrastruktur dan tenaga pendidik yang akan melaksanakannya. Hal ini memunculkan pertanyaan penting: apakah kebijakan ini benar-benar inklusif atau justru memperlebar kesenjangan digital?

Faktanya, masih banyak sekolah di Indonesia, terutama di daerah terpencil, yang belum memiliki fasilitas dasar seperti listrik dan internet. Berdasarkan data Kemendikbudristek, terdapat 8.522 sekolah yang belum memiliki listrik dan 42.159 sekolah yang tidak memiliki akses internet. Dengan kondisi seperti ini, pembelajaran berbasis AI sulit untuk dilaksanakan secara merata. Jika kebijakan ini hanya berlaku di wilayah-wilayah yang sudah maju, maka akan terjadi ketimpangan digital yang semakin tajam antara sekolah perkotaan dan pedesaan.

Baca Juga  KKN Kebencanaan Kapalo Koto dan UNIB Salurkan Bantuan Gizi Pasca Banjir

Selain persoalan infrastruktur, tantangan lainnya adalah kesiapan tenaga pengajar. Pembelajaran AI memerlukan pemahaman mendalam, bukan sekadar penggunaan perangkat teknologi. Diperlukan guru yang tidak hanya melek digital, tetapi juga memahami prinsip-prinsip dasar AI dan etika penggunaannya. Namun, survei Kemendikbudristek menunjukkan bahwa hanya sekitar 40% guru non-TIK yang merasa siap dengan teknologi. Ini mengindikasikan bahwa sebagian besar guru belum memiliki kompetensi digital yang memadai, apalagi dalam mengajarkan AI.

Pelatihan guru yang selama ini tersedia pun masih bersifat umum, belum menyentuh aspek spesifik seperti AI. Tanpa pelatihan yang terstruktur dan menyeluruh, para guru yang belum siap akan kesulitan menyampaikan materi secara tepat, bahkan berisiko menyampaikan informasi yang keliru atau tidak kontekstual. Hal ini dapat berdampak negatif terhadap kualitas pembelajaran di kelas.

Jika tidak ditangani dengan tepat, ketimpangan dalam kompetensi guru ini akan semakin memperkuat jurang digital. Guru-guru di daerah perkotaan mungkin memiliki lebih banyak akses terhadap pelatihan teknologi, sementara guru di daerah terpencil tertinggal jauh. Kondisi ini menimbulkan ketidakadilan dalam kualitas pendidikan yang diterima oleh siswa di berbagai wilayah Indonesia.

Baca Juga  Polisi Selidiki Laporan Dugaan Perusakan Mobil di Pasar Baru

Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa memasukkan pembelajaran AI ke dalam kurikulum adalah langkah maju yang bisa membawa Indonesia sejajar dengan negara-negara lain dalam perkembangan teknologi. Namun, penerapan kebijakan ini harus mempertimbangkan kondisi nyata di lapangan. Tanpa kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia yang merata, kebijakan ini justru bisa menimbulkan ketimpangan yang semakin besar.

Oleh karena itu, sebelum kebijakan ini diterapkan secara luas, pemerintah harus terlebih dahulu memastikan tersedianya fasilitas dasar seperti listrik dan internet di semua sekolah, serta memberikan pelatihan yang menyeluruh dan berkelanjutan kepada para guru di seluruh Indonesia. Dengan begitu, kebijakan pembelajaran AI bisa diterapkan secara adil dan memberikan manfaat nyata bagi seluruh pelajar Indonesia, tanpa kecuali.

Penulis merupakan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas 

BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

Mahasiswa Ilmu Sejarah UNAND tengah melakukan wawancara pada kegiatan Ekspedisi Sejarah 2026 di Lintau Buo, Sabtu (31/10/2026) (Genta Andalas/Ibnu Muhammad Bintang)

Ekspedisi Sejarah UNAND Gali Ingatan Kolektif dan Identitas Nagari Balai Tangah

1 November 2026, 21:18 WIB
Massa aksi menyampaikan aspirasi di depan Gedung DPRD Provinsi Sumatera Barat, Rabu (28/10/2026) (Genta Andalas/Farid Farhan)

Aksi Massa Lanjutan di DPRD Sumbar Desak Karhutla Jadi Bencana Nasional

29 Oktober 2026, 06:51 WIB
Serah terima jabatan oleh Pemimpin Umum UKPM Genta Andalas periode 2025/2026 Zaki Latif kepada Pemimpin Umum Genta Andalas periode 2026/2027 Oktavia Ramadhani, Senin (26/10/2026)(Genta Andalas/Syifa Alifa)

Oktavia Ramadhani Terpilih menjadi Pemimpin Umum Genta Andalas 2026/2027

28 Oktober 2026, 23:49 WIB
Bentuk aksi simbolik yang membentangkan spanduk protes di kawasan tugu Adipura depan Gedung DPRD Provinsi Sumatera Barat, pada Selasa(27/10/2026) (Genta Andalas/M.Dhiaurrahman Alfatih)

Massa Aksi Desak Pemerintah Tindak Lanjut Persoalan Karhutla

28 Oktober 2026, 01:16 WIB
Nelayan lokal sedang menjala ikan di pinggiran Pantai Carolina, Minggu (30/8/2026) (Tantri Pramudita)

Carolina dalam Riuh Ombak dan Teduh Pepohonan

24 Oktober 2026, 23:42 WIB
Ilusgrafis/Ulya Nur Fadillah

Menjelang Akhir Kepengurusan, Struktur Kabinet BEM KM UNAND Tuai Pertanyaan

24 Oktober 2026, 00:12 WIB

TERPOPULER

  • (Poster Film Alas Roban/detik.com)

    Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Menelusuri Luka Masa Lalu Lewat Cerita Lila

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Menerka Masa Depan Indonesia Melalui Teori Siklus Polybius

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Kebakaran Hanguskan Sejumlah Ruko Dekat Kampus UNAND, Kerugian Ditaksir Rp3 Miliar

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Ekspedisi Sejarah UNAND Gali Ingatan Kolektif dan Identitas Nagari Balai Tangah

    Bagikan
    Bagikan Tweet
Gentaandalas.com

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak