Padang, gentaandalas.com- Dugaan kasus kekerasan seksual di lingkungan Universitas Andalas kembali menjadi sorotan setelah unggahan akun Instagram KDM Andalas menyebut kondisi kampus berada dalam situasi “darurat pelecehan seksual”.
Menanggapi unggahan tersebut, perwakilan admin KDM Andalas melakukan dialog dengan Kepala Kantor Humas, Harry Efendi Iskandar, di Pusat Kegiatan Mahasiswa pada Senin (4/5/2026), guna mengklarifikasi informasi sekaligus mendorong tindak lanjut dari pihak kampus. Dalam pertemuan tersebut, admin KDM Andalas yang enggan disebutkan namanya menyatakan bahwa unggahan yang disebarkan bukan tanpa dasar. Ia mengaku memiliki sejumlah bukti terkait dugaan pelecehan seksual, termasuk bentuk pelecehan verbal yang dialami korban.
Ia juga menyebutkan bahwa laporan telah disampaikan kepada Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS) serta pihak jurusan terduga pelaku. Namun, hingga saat ini, ia menilai belum ada tindak lanjut yang jelas. “Kami sudah melaporkan ke Satgas PPKS dan juga ke jurusan, tetapi sampai sekarang belum ada penanganan lebih lanjut. Menurut kami, responsnya masih lambat,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut menimbulkan kekecewaan dan kekhawatiran, terutama karena laporan telah disampaikan lebih dari satu kali. Ia juga menilai lambatnya respons berpotensi menyebabkan korban enggan melapor, karena adanya kekhawatiran terkait perlindungan identitas.
Pihak KDM Andalas juga mengungkap adanya indikasi lebih dari satu korban dalam kasus tersebut dengan latar belakang berbeda. Mereka menyebut dugaan tindakan tersebut terjadi berulang kali, meskipun hal ini masih memerlukan penelusuran dan verifikasi lebih lanjut. Selain itu, mereka juga mengungkap dugaan kasus lain di lingkungan Kampus II Payakumbuh yang diduga melibatkan pihak di luar kampus. Dalam kasus tersebut, korban disebut mengalami pelecehan secara verbal maupun nonverbal hingga berdampak pada kondisi psikologis dan membutuhkan pendampingan profesional.
“Di Kampus II Payakumbuh, kami menerima informasi adanya dugaan pelecehan yang dilakukan oleh oknum masyarakat setempat. Korban disebut mengalami dampak psikologis hingga harus mendapatkan pendampingan profesional,” ujarnya.
Dalam pernyataan lainnya, pihak KDM Andalas juga menyebut bahwa terduga pelaku pada salah satu kasus merupakan seorang mahasiswa yang disebut masih aktif mengikuti kegiatan akademik, termasuk program pertukaran mahasiswa. Mereka juga menyampaikan bahwa yang bersangkutan diduga memiliki keterkaitan sebagai anggota Satgas PPKS di tingkat mahasiswa.
Pihak KDM Andalas menilai kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan mahasiswa, terutama terkait transparansi penanganan kasus serta jaminan keamanan bagi korban. Namun, seluruh informasi tersebut masih memerlukan klarifikasi lebih lanjut dari pihak kampus guna memastikan kebenaran dan tindak lanjutnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Kantor Humas, Harry Efendi Iskandar, menyampaikan apresiasi atas pelaporan yang dilakukan mahasiswa dan menegaskan bahwa kekerasan seksual merupakan persoalan serius. “Kami berterima kasih atas informasi ini. Kami mengajak semua pihak untuk bersama-sama mengawal kasus ini agar dapat ditindaklanjuti secara tuntas,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa kekerasan seksual merupakan persoalan bersama yang harus ditangani secara serius, serta menyatakan komitmen kampus untuk mempercepat penanganan agar tidak muncul korban baru. “Terkait laporan yang disampaikan, akan segera kami tindak lanjuti. Untuk korban, kampus akan memberikan pendampingan, termasuk dalam pemulihan kondisi psikologis,” katanya.
Pihak kampus juga menyatakan akan menindaklanjuti laporan yang disampaikan, termasuk yang berkaitan dengan dugaan kasus di Kampus II Payakumbuh, serta membuka kemungkinan dialog lanjutan dengan pihak terkait untuk memastikan setiap laporan ditangani sesuai prosedur yang berlaku.
Reporter: Oktavia Ramadhani dan Zaki Latif Bagia Rahman
Editor: Nasywa Luthfiyyah Edfa







