• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Kamis, 23 Juli 2026
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Aspirasi

Indonesia Jadi Negara Fatherless, Kurangnya Peran Ayah Jadi Penyebab

oleh Redaksi
28 Juni 2023, 19:23 WIB
(Ilustrator/Fadhilatul Husni)

(Ilustrator/Fadhilatul Husni)

ShareShareShareShare
(Ilustrator/Fadhilatul Husni)

Oleh: Lara Elisa Putri*

Indonesia saat ini menjadi salah satu negara fatherless di dunia karena hilangnya peran ayah dalam pengasuhan dan tumbuh kembang anak. Dilansir dari kompas.com, Indonesia bahkan menempati posisi ketiga dalam minimnya peran ayah dalam kehidupan anak. Tentu saja hal ini amat disayangkan sebab peran penting ayah dalam tumbuh kembang anak sangatlah pentik. Anak yang kurang kasih sayang dari seorang ayah, akan membuat anak merasa kurang dekat dengan ayahnya sehingga lebih memilih untuk mendekati orang lain.

Kurang nya sosok seorang ayah ini sebenarnya sudah sangat lama menjadi sorotan bagi para psikolog, sudah pernah di singgung sebelum nya oleh beberapa psikolog melalui beberapa media sosial, namun hal ini tidak tersampaikan kepada orang tua, hanya sampai ke anak anak yang kurang peran seeorang ayah, bagi seorang anak untuk menyampaikan hal tersebut sangat lah berat, anatara anak tersebut takut di hujat di bilang alay oleh orang tua mereka.

Sorotan mengenai masalah minimnya peran ayah sebenarnya sudah dilakukan sejak lama, namun meski sudah digembor-gemborkan masih saja belum berdampak besar. Tak jarang juga anak menuntut haknya kepada ayahnya namun mendapat perkataan seperti “memang kamu tidak mendapat kasih sayang? Terlalu berlebihan,” dari ayahnya sendiri.

Baca Juga  Peringatan 22 Tahun Hari Buku Nasional: Penulis dan Pembaca Buku Tetap Dilema

Besarnya angka perceraian di Indonesia tentu juga menjadi faktor dari fenomena fatherless ini. Kasus perceraian yang meningkat di Indonesia membuat banyak anak trauma akan perpisahan dan ayah yang memilih berpisah dengan anaknya akan abai terhadap kewajibannya dalam menafkahi. Bahkan, banyak ayah yang telah bercerai dengan ibu sang anak akan menolak untuk menemui anaknya kembali. Hal ini akan berdampak pada perasaan si anak yang akan merasa kurang kasih sayang dan rasa kehilangan sosok ayah selanjutnya akan membuatnya jadi tidak stabil. Kurangnya apresiasi dari ayahnya akan membuat anak lebih sering merasa kecil dan tidak percaya diri.

Selain perceraian, faktor fatherless lainnya adalah masih banyaknya ayah yang tinggal jauh dari keluarganya di Indonesia. Anak yang hanya diasuh oleh seorang ibu tentu akan bertanya-tanya akan kehadiran sosok ayah dalam hidupnya. Apalagi jika melihat temannya yang sering bertemu dengan ayahnya, perasaan si anak akan tergerus. Ayah tentunya memiliki porsi tersendiri dalam tumbuh kembang anak yang tidak digantikan sosok ibu. Penyebab fenomena fatherless ini terjadi, tentu dikarenakan kurangnya rasa tanggung jawab dan sadar diri dari seorang ayah akan tanggung jawabnya dalam mendidik anak.

Baca Juga  Transformasi Peran Perempuan: Dari Rumah Tangga ke Dinamika Ekonomi dan Sosial

Ayah memiliki tanggung jawab yang besar dalam mendidik anak. Sebagai ayah yang baik, seharusnya bisa memikirkan keadaan anak dengan berbagai macam keputusannya. Seorang ayah tidak boleh egois dalam mengambil tindakan bercerai dan harus menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap anak. Didikan ayah yang baik akan membuat tumbuh kembang anak menjadi lebih baik dan berpotensi memiliki masa depan yang lebih baik. Bagaimanapun, anak tetaplah menjadi tanggung jawab ayah dan ibu. Memperbaiki komunikasi dengan anak akan membuat anak merasa lebih disayang. Selain itu, ayah yang menjaga hubungan dengan ibu akan membuat keluarga terasa lebih harmonis.

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas.

 

Tag: Indonesiamental health
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

(Ilustrasi/Kesih Rianti)

Ketika Penegak Hukum Diduga Tersangka

20 Juli 2026, 22:58 WIB
(Ilustrasi/Ulya Nur Fadilah)

Skripsi Tidak Pernah Lebih Berharga dari Nyawamu Sendiri

15 Juli 2026, 21:18 WIB
(Ilustrasi/Ulya Nurfadillah)

Di Balik Antrean Virtual, Adakah Kesempatan yang Benar-benar Sama?

11 Juli 2026, 21:21 WIB
Poster film Toy Story 5/Disney Indonesia

Toy Story 5, Ketika Teknologi Menantang Imajinasi Anak

3 Juli 2026, 13:09 WIB
Pertunjukan drama berjudul "TPS" menghadirkan adegan di area pelepasan suara, Rabu (1/7/2026) (Genta Andalas/Syifa Alifah)

Mahasiswa Sastra Indonesia UNAND Unjuk Kepiawaian Berakting

2 Juli 2026, 16:32 WIB
Pementasan drama Nurani oleh mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia angkatan 2024 dalam Festival dan Seminar Teater Indonesia di FIB UNAND, Rabu (1/7/2026) (Genta Andalas/Zulaizah)

Sastra Indonesia UNAND Gelar Festival dan Seminar Teater Indonesia

2 Juli 2026, 16:20 WIB

Populer

  • (Poster Film Sekawan Limo 2 Gunung Klawih/Jambian-Pikiran Rakyat)

    Sekawan Limo 2: Gunung Klawih, Ketika Jalan Pintas Menjadi Kutukan Generasi Berikutnya

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Tabek Mandi Sikabu: Surga Pemandian Keluarga di Tengah Alam Sumatera Barat

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Menelusuri Luka Masa Lalu Lewat Cerita Lila

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Kondisi Aceh Masih Memprihatinkan, Fasilitas Belum Pulih dan Anak Belajar di Tenda

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Mahasiswa Sastra Inggris UNAND Gelar English Drama Performance 2026

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Saat Teror Tak Lagi Sekadar Konten

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Mengenal Uang Japuik, Adat Pariaman yang Masih Sering Disalahartikan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Toy Story 5, Ketika Teknologi Menantang Imajinasi Anak

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Rekonstruksi GOR Haji Agus Salim dan Nasib PKL yang Terlupakan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
Genta Andalas

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak