• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Sabtu, 7 November 2026
Gentaandalas.com
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Gentaandalas.com
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Berita

Kebijakan Negara Dinilai Picu Ekstraktivisme dan Ketimpangan Lingkungan

oleh Redaksi
Rabu, 29 April 2026, 09:54 WIB
Suasana diskusi publik mengenai isu lingkungan (28/4/2026) (Zaki Latif Bagia Rahman)

Suasana diskusi publik mengenai isu lingkungan (28/4/2026) (Zaki Latif Bagia Rahman)

ShareShareShareShare

Padang, gentaandalas.com- Kebijakan pemerintah dinilai menjadi faktor utama di balik maraknya praktik ekonomi ekstraktif yang berdampak pada kerusakan lingkungan dan ketimpangan sosial. Hal ini mengemuka dalam diskusi “Bicara Sumatera Barat” tentang ekonomi ekstraktif dan keadilan ekologis yang digelar di Universitas Andalas, Selasa (28/4/2026), di tengah menguatnya sorotan terhadap isu kerusakan lingkungan dan transisi energi di Indonesia.

Diskusi yang berlangsung di Ruang Studio Lantai 2 Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Universitas Andalas ini menghadirkan jurnalis senior sekaligus penulis buku Reset Indonesia, Farid Gaban, Direktur Socio-Bioeconomy Celios, Fiorentina Refani, serta antropolog Universitas Andalas, Fajri Rahman, dengan moderator jurnalis Febrianti.

Fiorentina Refani menyebut keputusan petani mengonversi lahan, termasuk ke perkebunan sawit, tidak lahir dari ruang kosong, melainkan dipengaruhi oleh arah kebijakan negara dan pasar.

“Pilihan itu didorong oleh kebijakan, termasuk subsidi besar terhadap industri sawit. Jadi, tidak adil jika petani kecil yang disalahkan,” ujarnya.

Ia mencontohkan kebijakan energi seperti program biodiesel yang meningkatkan permintaan pasar terhadap minyak sawit. Kondisi tersebut mendorong masyarakat melihat sawit sebagai peluang ekonomi, meskipun berdampak pada perubahan lanskap ekologis.

Baca Juga  Pelaksanaan UTBK SNBT 2023 Unand Diadakan Satu Gelombang

Sementara itu, Farid Gaban menilai pola pembangunan yang bertumpu pada eksploitasi sumber daya telah menimbulkan kerugian besar, terutama bagi masyarakat kecil. Menurutnya, manfaat ekonomi dari sektor ekstraktif cenderung terkonsentrasi pada korporasi besar, sementara dampak lingkungan ditanggung oleh masyarakat.

“Yang menikmati keuntungan biasanya segelintir pihak, tetapi yang menanggung kerusakan adalah masyarakat luas,” kata Farid.

Kritik juga diarahkan pada kebijakan transisi energi. Fajri Rahman menyoroti rencana penghentian operasional pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara yang dinilai belum disertai peta jalan yang jelas bagi pekerja dan masyarakat terdampak.

Menurutnya, kebijakan yang tidak disiapkan secara komprehensif berpotensi menjadikan masyarakat sebagai “korban ganda”, yakni terdampak pencemaran sekaligus kehilangan sumber penghidupan.

Selain itu, diskusi juga menyinggung praktik pembatasan akses masyarakat atas nama konservasi. Pendekatan ini dinilai berisiko menghilangkan ruang hidup masyarakat, sekaligus membuka peluang bagi kepentingan ekonomi skala besar di kemudian hari.

Baca Juga  UNAND Akui Kampus Aman Tak Berarti Bebas dari Kekerasan Seksual

Sebagai alternatif, para pembicara menawarkan konsep ekonomi restoratif yang menekankan upaya menjaga lingkungan yang tersisa sekaligus memulihkan kerusakan yang telah terjadi. Salah satu langkah yang disorot adalah perlunya redistribusi lahan serta pengelolaan berbasis kolektif untuk mengurangi ketimpangan penguasaan sumber daya.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program yang diinisiasi oleh KOMSLAB, sebuah lembaga non-profit di bidang komunikasi yang bertujuan menghubungkan akademisi, jurnalis, dan organisasi masyarakat sipil. Forum ini juga menjadi ruang pertemuan untuk bertukar gagasan terkait isu lingkungan dan pembangunan.

Kegiatan ini diikuti oleh peserta dari berbagai kalangan, terutama mahasiswa, termasuk pers mahasiswa, serta komunitas jurnalis di Padang dan sekitarnya. Diskusi ditutup dengan dorongan agar gagasan yang muncul tidak berhenti pada tataran wacana, melainkan mendorong perubahan dalam kebijakan pembangunan yang lebih berkeadilan ekologis.

Reporter: Oktavia Ramadhani dan Zaki Latif Bagia Rahman

Editor: Nasywa Luthfiyyah Edfa

Tag: Genta AndalasPadangUnand
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

Mahasiswa Ilmu Sejarah UNAND tengah melakukan wawancara pada kegiatan Ekspedisi Sejarah 2026 di Lintau Buo, Sabtu (31/10/2026) (Genta Andalas/Ibnu Muhammad Bintang)

Ekspedisi Sejarah UNAND Gali Ingatan Kolektif dan Identitas Nagari Balai Tangah

Minggu, 1 November 2026, 21:18 WIB
Massa aksi menyampaikan aspirasi di depan Gedung DPRD Provinsi Sumatera Barat, Rabu (28/10/2026) (Genta Andalas/Farid Farhan)

Aksi Massa Lanjutan di DPRD Sumbar Desak Karhutla Jadi Bencana Nasional

Kamis, 29 Oktober 2026, 06:51 WIB
Serah terima jabatan oleh Pemimpin Umum UKPM Genta Andalas periode 2025/2026 Zaki Latif kepada Pemimpin Umum Genta Andalas periode 2026/2027 Oktavia Ramadhani, Senin (26/10/2026)(Genta Andalas/Syifa Alifa)

Oktavia Ramadhani Terpilih menjadi Pemimpin Umum Genta Andalas 2026/2027

Rabu, 28 Oktober 2026, 23:49 WIB
Bentuk aksi simbolik yang membentangkan spanduk protes di kawasan tugu Adipura depan Gedung DPRD Provinsi Sumatera Barat, pada Selasa(27/10/2026) (Genta Andalas/M.Dhiaurrahman Alfatih)

Massa Aksi Desak Pemerintah Tindak Lanjut Persoalan Karhutla

Rabu, 28 Oktober 2026, 01:16 WIB
Nelayan lokal sedang menjala ikan di pinggiran Pantai Carolina, Minggu (30/8/2026) (Tantri Pramudita)

Carolina dalam Riuh Ombak dan Teduh Pepohonan

Sabtu, 24 Oktober 2026, 23:42 WIB
Ilusgrafis/Ulya Nur Fadillah

Menjelang Akhir Kepengurusan, Struktur Kabinet BEM KM UNAND Tuai Pertanyaan

Sabtu, 24 Oktober 2026, 00:12 WIB

TERPOPULER

  • (Poster Film Alas Roban/detik.com)

    Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Menelusuri Luka Masa Lalu Lewat Cerita Lila

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Menerka Masa Depan Indonesia Melalui Teori Siklus Polybius

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Kebakaran Hanguskan Sejumlah Ruko Dekat Kampus UNAND, Kerugian Ditaksir Rp3 Miliar

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Ekspedisi Sejarah UNAND Gali Ingatan Kolektif dan Identitas Nagari Balai Tangah

    Bagikan
    Bagikan Tweet
Gentaandalas.com

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak