• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Sabtu, 6 Juni 2026
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Aspirasi

Ngopi di Kafe, Antara Ilusi Kerja dan Ajang Gaya

oleh Redaksi
17 Agustus 2025, 21:33 WIB
(Ilustrasi/Ulya Nur Fadilah)

(Ilustrasi/Ulya Nur Fadilah)

ShareShareShareShare
(Ilustrasi/Ulya Nur Fadilah)

Oleh: Meuthya Ghaniya Dwi Putri*

Di hampir setiap kota, kafe sekarang selalu dipenuhi oleh anak muda. Mereka datang membawa laptop, buku catatan, atau tablet mereka, bukan hanya untuk belajar, tetapi juga untuk bersenang-senang sambil mengambil foto suasana sekitar. Ini membuat kita bertanya-tanya apakah kafe sebenarnya lebih dilihat sebagai tempat kerja yang efektif atau hanya sebagai tempat untuk menunjukkan gaya hidup anak muda. Ini adalah pertanyaan yang penting karena kebiasaan nongkrong di kafe bukan hanya tentang santai, tapi juga mencerminkan perubahan sosial yang berkaitan dengan kelas, cara konsumsi, dan pencarian identitas diri.

Secara ilmiah, ada alasan mengapa kafe bisa menjadi pilihan baik untuk bekerja. Dikutip dari IDN Times, mengungkapkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa kebisingan khas di kafe sekitar 70 desibel dapat membantu meningkatkan fokus dan daya kreativitas. Banyak pekerja merasa lebih produktif saat berada di kafe karena rumah mereka terlalu ramai atau kantor terlalu banyak gangguan. Dari sudut pandang ini, kafe menjadi pilihan logis karena menawarkan suasana yang berbeda, fasilitas yang baik, dan interaksi sosial yang bisa memberikan semangat.

Baca Juga  Mahasiswa KKN UNAND Pangian Berdayakan Limbah Kotoran Ayam Petelur Menjadi Pupuk Organik

Namun, jika kita lihat lebih dalam, kafe juga telah berubah menjadi tempat untuk berbelanja gaya hidup. Desain interior yang menarik, menu yang harganya bisa lebih mahal, dan suasana yang bisa diunggah ke Instagram jelas tidak hanya diciptakan untuk bekerja, tapi juga untuk menunjukkan status. Bekerja di kafe jadi semacam tanda bahwa seseorang termasuk dalam kelompok urban modern yang memiliki uang lebih untuk “membeli” suasana kerja yang kreatif. Ini menimbulkan pertanyaan lain, apakah kita benar-benar menjadi lebih produktif, atau apakah kita hanya membeli ilusi produktivitas dengan segelas latte yang harganya Rp40 ribu?

Inilah sisi lain yang sering diabaikan. Kebiasaan nongkrong di kafe tidak muncul tanpa alasan, melainkan tumbuh dalam budaya konsumsi yang membuat seolah-olah produktivitas harus dibeli. Bagi beberapa orang, bekerja dari kafe sekarang bukan hanya soal menyelesaikan pekerjaan, tetapi sudah menjadi bagian dari citra diri mereka. Ironisnya, banyak yang mau mengeluarkan ratusan ribu rupiah setiap bulan hanya untuk suasana yang dikatakan lebih mendukung fokus, padahal fokus bisa saja diperoleh tanpa mengeluarkan uang, asalkan dengan disiplin dan kesadaran diri.

Baca Juga  Tren OOTD di Sosial Media: Representasi Gaya Hidup Konsumtif Generasi Muda

Oleh karena itu, bekerja di kafe harus dipandang sebagai fenomena sosial yang memiliki dua sisi. Ada sisi ilmiahnya, tetapi juga ada sisi yang mendorong konsumsi berlebihan. Anak muda harus lebih kritis untuk menilai apakah benar kafe membantu mereka menjadi lebih produktif, atau apakah mereka hanya menjadi konsumen setia dari industri gaya hidup yang pandai menjual suasana. Pada akhirnya, yang terpenting bukanlah tempat kita bekerja, tetapi cara kita bekerja. Kafe bisa memberikan dukungan, tetapi jika motivasi kita hanya untuk penampilan di media sosial, maka produktivitas yang kita banggakan hanyalah ilusi.

*Penulis merupakan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

 

Tag: KafeMahasiswatrenUnand
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

(Ilustrasi/Zulaizah)

Menerka Masa Depan Indonesia Melalui Teori Siklus Polybius

5 Juni 2026, 23:53 WIB
Situasi Pelaksanaan Diseminasi Riset tema Kebencanaan oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang di Gedung Serba Guna (GSG) Fakultas Hukum Universitas Andalas pada Kamis (4/6/2026) (Genta Andalas/Irfan Deri Saputra)

Diseminasi Riset LBH Padang Soroti Industri Energi dan Kerentanan Bencana

4 Juni 2026, 23:06 WIB
(Ilusgrafis/Farid Farhan)

PP Nomor 21 Tahun 2026 dan Harapan Baru Bagi Rupiah

2 Juni 2026, 22:13 WIB
Objektifikasi perempuan dalam tongkrongan laki-laki dinilai sekadar gurauan. (Ilustrasi/Echa Syafira)

Membongkar Budaya Objektifikasi Perempuan dalam Tongkrongan Mahasiswa

1 Juni 2026, 16:47 WIB
(Ilustrasi/Ulya Nurfadilah)

Clickbait: Jebakan Informasi di Era Digital

31 Mei 2026, 11:54 WIB
(Ilustrasi/Tantri Pramudita)

Judi Online dan Masyarakat yang Kehilangan Harapan

28 Mei 2026, 16:45 WIB

Populer

  • Poster film Pesta Babi

    Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Tenaga Kebersihan FK UNAND Ditemukan Meninggal di Hutan Biologi

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Pesta Babi dan Ancaman terhadap Ruang hidup Masyarakat Adat

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Mengenal Uang Japuik, Adat Pariaman yang Masih Sering Disalahartikan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Tidak Ada Unggahan Kenaikan Isa Almasih, BEM KM UNAND Klarifikasi

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Atap Bagonjong pada Rumah Gadang sebagai Identitas Sosial Masyarakat Minangkabau

    1 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Aksi Mahasiswa Warnai Depan Kantor Gubernur Sumbar

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Tiga Pria Diamankan Usai Diduga Konsumsi Alkohol di UNAND

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Absennya UNAND dalam Aksi BEM-SI Sumbar Tuai Pertanyaan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
Genta Andalas

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak