• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Kamis, 5 November 2026
Gentaandalas.com
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Gentaandalas.com
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Aspirasi

Pengangkatan Marsinah Menjadi Pahlawan Nasional: Simbol Pengakuan Negara terhadap Suara Buruh

oleh Redaksi
15 November 2025, 07:12 WIB
(Ilustrasi/ Ulya Nur Fadillah)

(Ilustrasi/ Ulya Nur Fadillah)

ShareShareShareShare

Oleh: Zaki Latif Bagia Rahman*

Keputusan mengangkat Marsinah sebagai Pahlawan Nasional merupakan salah satu langkah paling berarti dalam usaha negara memperluas definisi kepahlawanan. Selama puluhan tahun, gelar Pahlawan Nasional sering didominasi oleh tokoh politik, pemimpin militer, atau figur yang berjuang dalam konteks besar seperti kemerdekaan dan konflik negara. Namun, sejarah bangsa tidak hanya dibentuk oleh mereka yang memegang kekuasaan. Ada pula mereka yang bertarung di garis terdepan kehidupan sehari-hari. Para buruh, petani, dan rakyat kecil yang suaranya kerap tenggelam di bawah bisingnya kekuasaan. Marsinah adalah salah satu dari mereka, dan pengangkatannya sebagai Pahlawan Nasional merupakan koreksi moral dan historis yang terlambat, namun tetap signifikan.

Marsinah, seorang buruh perempuan di pabrik arloji PT Catur Putra Surya, memperjuangkan hak-hak pekerja yang bahkan hingga kini masih menjadi persoalan nasional, seperti upah layak, kebebasan berserikat, serta perlakuan manusiawi. Keberaniannya memimpin tuntutan buruh pada Mei 1993 berujung pada penculikan dan pembunuhan yang hingga hari ini meninggalkan luka sejarah yang belum sepenuhnya terobati. Ia bukan aktivis terkenal, bukan tokoh politik, bukan pula figur dari keluarga terpandang. Ia hanyalah seorang buruh perempuan yang berani bersuara. Dalam salah satu catatan terkenalnya, ia pernah menulis “Kami ini tak banyak kehendak, sekadar hidup layak, sebutir nasi.” Kutipan sederhana ini memperlihatkan betapa perjuangan Marsinah bukan tentang ambisi politik, melainkan tentang kebutuhan manusia yang paling dasar.

Baca Juga  Penolakan Status Bencana Nasional yang Mengorbankan Rakyat Sumatera

Para sejarawan menilai pengangkatan Marsinah sebagai langkah penting dalam pergulatan bangsa menghadapi sejarah kelam pelanggaran hak asasi manusia pada masa Orde Baru. Sejarawan Asvi Warman Adam menyebut Marsinah sebagai “martir gerakan buruh” dan menegaskan bahwa negara seharusnya mengakui perjuangannya sejak lama. Sementara sejarawan JJ Rizal menekankan bahwa pengakuan terhadap Marsinah adalah bentuk keberanian negara untuk menatap masa lalu secara jujur bahwa kekerasan terhadap rakyat kecil harus dianggap sebagai bagian dari sejarah yang tidak boleh dilupakan. Dengan demikian, pengangkatan Marsinah bukan sekadar penghormatan personal, ini adalah pernyataan bahwa negara bersedia memperbaiki narasi sejarah yang selama puluhan tahun dipelintir atau disenyapkan.

Makna dari pengangkatan ini pun lebih luas daripada sekadar simbolik. Bagi generasi muda, Marsinah adalah pengingat bahwa perjuangan untuk demokrasi dan keadilan sosial tidak hanya terjadi di gedung parlemen atau ruang-ruang konferensi besar. Perubahan besar kerap dimulai dari keberanian seseorang yang hadir sebagai “orang biasa”. Dalam catatan puisinya yang lain, Marsinah menulis “Saya ini Marsinah, buruh pabrik arloji. Saya tidak pernah jadi perhatian dalam upacara, dan tidak tahu harga sebuah lencana.” Ironisnya, justru ia kini menerima penghargaan tertinggi dari negara yang dulu gagal melindunginya. Ini adalah pengakuan yang penuh makna, negara akhirnya memberikan lencana bagi seseorang yang tidak pernah membutuhkannya, tetapi sangat layak menerimanya.

Baca Juga  UNAND Bangun Lintasan Lari Berstandar Nasional

Namun, penghargaan ini tidak boleh berhenti pada seremoni belaka. Jika negara benar-benar ingin menghormati Marsinah, maka nilai-nilai yang ia perjuangkan harus diwujudkan dalam kebijakan nyata. Hingga kini, isu ketenagakerjaan masih menjadi tantangan besar: mulai dari upah murah, kontrak kerja tak menentu, kriminalisasi aktivis buruh, hingga lemahnya perlindungan terhadap pekerja perempuan. Pengangkatan Marsinah sebagai Pahlawan Nasional seharusnya menjadi kompas moral bagi pemerintah, bahwa martabat buruh adalah bagian dari martabat bangsa. Tanpa perbaikan sistemik, penghargaan ini hanya akan menjadi hiasan kosong dalam kalender nasional.

Pada akhirnya, Marsinah memberi kita pelajaran bahwa keberanian tidak mengenal status sosial. Suaranya mungkin dibungkam pada 1993, tetapi gaungnya tidak pernah benar-benar padam. Dengan diangkatnya Marsinah sebagai Pahlawan Nasional, negara akhirnya mengakui bahwa perjuangan untuk keadilan sosial adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan bangsa. Marsinah berdiri sebagai bukti bahwa seorang buruh perempuan pun mampu menggetarkan kesadaran nasional. Dan kini, akhirnya, ia diabadikan sebagai pahlawan bagi seluruh rakyat Indonesia.

 

*Penulis merupakan Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas

Tag: #unand #genta Andalas #Marsinah
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

(Ilustrasi/Zulaizah)

Penyadapan Presiden, Menguji Supremasi Hukum dan Batas Kekuasaan Aparat Negara

5 November 2026, 22:19 WIB
(Ilusgrafis/Nasywa Luthfiiyah Edfa)

“Stop the Wedding!” dan Ketakutan untuk Menikah

3 November 2026, 18:21 WIB
(Ilustrasi/Tantri Pramudita)

Ketika Pengalaman Magang Jadi Kedok Buruh Murah

23 Oktober 2026, 20:27 WIB
(Ilustrasi/Ibnu Muhammad Bintang)

Koa dan Tantangan Pewarisan Budaya Minangkabau

21 September 2026, 22:58 WIB
(Ilustrasi/Nabil Nur Insani)

Batal Dipecat, Keadilan Dipertanyakan

21 September 2026, 21:59 WIB
(Ilustrasi/Ibnu Muhammad Bintang)

Ketika Bahasa Minang Mulai Canggung di Lidah Gen Z

19 September 2026, 23:58 WIB

TERPOPULER

  • (Poster Film Alas Roban/detik.com)

    Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Menelusuri Luka Masa Lalu Lewat Cerita Lila

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Menerka Masa Depan Indonesia Melalui Teori Siklus Polybius

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Kebakaran Hanguskan Sejumlah Ruko Dekat Kampus UNAND, Kerugian Ditaksir Rp3 Miliar

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Ekspedisi Sejarah UNAND Gali Ingatan Kolektif dan Identitas Nagari Balai Tangah

    Bagikan
    Bagikan Tweet
Gentaandalas.com

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak